Siswa SD Gantung Diri di Ngada NTT Dipicu Karena Tak Diberi Buku dan Pulpen

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta
Pemutaran sengaja siswa SD kelas empat di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, melanggar rohnya. Penyebabnya diduga terkait ketidakdapatan iya untuk memperoleh alat tulis dan pensil.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, membagikan informasi bahwa korban berinisial YBR minta dana untuk keperluan sekolah sebelum teringat. Permintaan ini tidak dapat terpenuhi karena kondisi ekonomi ibu korban yang terpengaruh oleh kebutuhan keluarga berkelimaan.

Dion menjelaskan YBR sering tinggal bersama neneknya, sementara ibu dan ayah korban tidak bersatu sejak puluhan tahun. Saat berinap di rumah ibu, YBR menonjolkan kebutuhannya untuk buku dan pensil.

Kondisi ekonomi ibu korban sangat kaku. Ia harus memenuhi kebutuhan lima anak, sementara ayah korban sudah boros dari hubungan yang bermasalah.

Pengakuan ibu korban mengungkapkan kesulitan memenuhi permintaan anak. Ia berusaha memberikan kesempatan, tetapi kondisi finansialnya membatasi kemampuannya.

Surat tulisan tangan YBR ditemukan oleh petugas setelah korban tercapai kematian bencana. Ibadah penyelidikmenghasilkan bahwa surat itu ditulis secara pribadi oleh korban.

Polisi Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, mengonfirmasi bahwa surat tersebut merupakan tulisan korban. Polisi menemukan dokumen tersebut saat proses evakuasi di pohon cengkih di Jerebuu.

Data Riset Terbaru:
Pendekatan penelitian terkini menunjukkan korelasi tajam antara ketidakmampuan finansial keluarga dan risiko perilaku ekstrem pada remaja. Studi di NTT menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami tekanan ekonomi mengalami cenderung terganggu secara psikologis.

Studi Kasus Relevan:
Banyak kasus kekhawatiran psikologis di desa terpencilSimilar dengan YBR, di mana kebutuhan belajar tidak dapat memenuhi. Kegiatan komunitas yang mendukung distribusi alat tulis gratis telah menunjukkan pengaruh positif dalam mengurangi risiko seperti ini.

Insight Analisis:
Kasus ini mengingatkan kita bahwa ancaman psikologis tidak hanya muncul dari kondisi fisik, tetapi juga dari ketegangan emosional yang tidak teratasi. Keterlibatan masyarakat dalam menyediakan dukungan material maupun emosional sangat vital.

Kebijakan pemerintah seharusnya diperkuat untuk memastikan akses pendidikan tetap stabil meski condisi ekonomi sulit. Kolaborasi dengan lembaga sosial juga perlu diperkuat untuk mendeteksi tanda-tanda ketidakmampuan psikologis sejak dini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan