Proyek ‘Sulap’ Sampah Jadi Listrik: Pembukaan Proyek Pertengahan Tahun

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Proyek mengolah sampah menjadi tenaga listrik, dikenal sebagai “sulap”, mencapai tahap awal pembangunannya pada tengah tahun 2026. Pemerintah Indonesia siap mengembangkan 34 lokasi di seluruh negeri tapi hanya menetapkan 10 area strategis untuk pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan rencana ini saat bertemu di Jakarta. “Targetnya adalah tahun 2027, saat ini proses peletakan batu pertama sedang berlangsung,” ujarnya. Pembangunan PLTSa diharapkan memakan waktu sekitar dua tahun setelah groundbreaking.

Kekuatan listrik yang dihasilkan PLTSa akan disubsidi oleh pemerintah, khususnya PLN. Namun, detail subsidi belum ditentukan, karena perlu dihitung berdasarkan kapasitas dan kebutuhan energi. Proyek ini juga didukung oleh BPI Danantara, yang menjadi penyumbang utama biaya. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan investasi total mencapai US$ 3,5 miliar (sekitar Rp 58,8 triliun).

Sebagian biaya mungkin dibayar oleh APBN, seperti contoh di Surabaya dengan anggaran Rp 60 miliar. Namun, Purbaya Sadewa, Mantan Minister Keuangan Purbaya, tidak mengungkapkan seberapa besar APBN yang akan dibutuhkan.

Proyek ini bertujuan mengatasi isu sampah berlebihan sambil memproduksi energi. Namun, tantangan utama adalah optimalisasi infrastruktur dan regulasi. Beberapa proyek “sulap” mungkin juga melibatkan proses pembersihan lingkungan, seperti yang dilakukan di Surabaya.

Pembangkit listrik tenaga sampah bisa menjadi solusi praktis untuk mengelola sampah organik yang berlebihan. Jika sukses, teknologi ini bisa diketahui di seluruh Indonesia, mencukupi kebutuhan energi lokal. Namun, keberhasilan tergantung pada kolaborasi antarparti dan stabilitas investasi.

Mengolah sampah menjadi energi bukan hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menawarkan alternatif tenaga listrik yang ramah lingkungan. Tantangan tetap ada, seperti standar teknologi dan keandalan sumber daya. Namun, dengan dukungan pemerintah dan investor, proyek ini bisa menjadi awal perubahan-paradigma.

Setiap proyek “sulap” yang diimplementasikan akan memberikan contoh bagaimana Indonesia berusaha menjawab isu lingkungan dengan cara inovatif. Meskipun prosesnya kompleks, potensi manfaatnya sangat besar. Maka, investasi dalam teknologi ini perlu diamalkan sebagai langkah kuat ke arah keberlanjutan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan