Kepala Sekolah Mengungkap Trau Guru yang Dikui dengan Daya Pancasila di Taman Senayan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tangisan Guru Honorer Terbukti Kejadian di Senayan

Jakarta – Guru honorer bernama Indah Permata Sari mengungkapkan keluh kesahnya di Baleg DPR, Senayan, Jakarta. Saat berbicara tentang kondisi kesejahteraan, Indah tidak bisa menahan emosi dan menangis. Kejadian ini terjadi saat pengurus besar PGRI ikut rapat dengan Badan Legislasi DPR RI, Senin (2/2/2026).

Momen tangisan guru honorer tersebut berlangsung ketika ia dibicara tentang masalah pendaftaran P3K. Indah mengungkapkan kesulitan dalam mengakses data pendidikan melalui sistem Dapodik. “Saya yang terdata di nomor 265, Pak, belum terdaftar di Dapodik meski sudah selesai masa kerja. Proses ini sangat boros, especialmente karena informasi tidak selesai menyebar dari dinas ke sekolah,” kata Indah saat rapat.

Ketua Baleg DPR Bob Hasan meminta penjelasan, lalu Indah menjelaskan masalahnya lebih rinci. “Dapodik itu penting untuk pendaftaran P3K, Pak. Tapi karena tidak masuk data, saya dan banyak guru lainnya ketinggalan informasi. Misalnya saat pengajuan P3K kemarin, kita tidak bisa ikut karena tidak terdaftar. Bahkan terbayang akan dibiarkan,” ujarnya sambil menghidupkan emosi.

Indah juga mengungkapkan dampak pada kehidupan praktis. “Saya harus bekerja sebagai penjual laundry setelah mengajar, Pak. Itu tidak sebaik-baik yang akui untuk guru,” ujarnya sambil kembali menangis.

Beberapa guru lain di rapat juga mencalonkan masalah serupa. Mereka menyoroti kekurangan sistem pembongkar data pendidikan yang memengaruhi kesempatan mereka. Indah mengekspresikan harapannya bahwa pendanaan dan informasi bisa dibenarkan secara penuh.

Pemerataan guru di rapat mengungkapkan kesulitan yang dihadapi dalam mengakses layanan pemerintah. Beberapa orang berkomentar tentang kebutuhan sistem digital yang lebih transparan dan efisien untuk mendukung tenaga pendidik.

Studi Lain tentang Sistem Dapodik
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 40% guru di Indonesia masih sulit mendaftarkan diri ke program pemerintah karena ketidakpastian sistem data seperti Dapodik. Hal ini sering membuat mereka tertinggal dalam peluang pengembangan karir. Eksper di bidang pendidikan menekankan kebutuhan modernisasi infrastruktur informasi untuk mendukung partisipasi lebih luas.

Contoh Kasus
Sebuah sekolah di Yogyakarta memasuki tes P3K dengan sukses setelah menggunakan aplikasi pendukung untuk mempercepat pengujian Dapodik. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi bisa mengurangi kekurangan sistem otomatis.

Insight dan Panggilan
Kondisi Indah bukan cuma individual, tapi refleksi sistem yang masih ketinggalan. Kita harus mempertimbangkan bagaimana digitalisasi data pendidikan bisa lebih inklusif. Jika setiap guru seperti Indah bisa ikut program seperti P3K tanpa kendala, itu akan menjadi langkah besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.

Jangan biarkan sistem yang berusaha membantu menjadi penghalang. Ada harapan untuk mengembangkan platform yang lebih ramah dan transparan. Semakin cepat kita berupaya menyelesaikan ini, semakin besar peluang untuk semua tenaga pendidik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan