PT Kilang Pertamina Internasional dan PT Garam Perkuat Hilirisasi Garam

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus menerukan inovasi melalui kolaborasi dengan PT Garam untuk pengolahan garam di Balikpapan. Kerja sama ini dilandasi dengan tanda persetujuan (MoU) yang disandung Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, dan Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, pada Rabu (28/1/2026).

Motu ini bertujuan untuk mendukung program substitusi impor garam industri, yang saat ini mencapai 64% dari kebutuhan nasional. Pembangunan pabrik dengan kapasitas 1.000.000 ton per tahun (KTA) diharapkan mengurangi impor sebesar US$ 150 juta atau Rp 2,5 triliun.

Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan PT Pertamina, mengklaim kerja sama ini sebagai dua kali kemandirian. Bukan hanya energi, tetapi juga pangan melalui produksi garam. Kolaborasi ini juga diharapkan menciptakan dampak positif seperti kemandirian ekonomi dan peningkatan lapangan kerja di kawasan industri Asia Tenggara.

Abraham Mose menerangkan permasalahan besar dalam kebutuhan garam nasional, yang mencapai 5,7 juta ton per tahun dan akan meningkat hingga 7,3 juta ton. PT Garam hanya mampu menghasilkan 500.000 ton, sehingga masih jauh dari target. Proyek ini memanfaatkan air buangan desalinasi dari kilang RDMP Balikpapan yang dianggap sangat potensial.

Danantara juga mendukung inisiatif ini dengan 41 program strategis, termasuk 20 di bidang hilirisasi energi dan pangan. Setyo Hantoro, Managing Director 2 Danantara, mengklaim strategi ini sejalan dengan tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional 8%.

Basis kerja sama ini adalah Peraturan Presiden No. 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Targetnya mencakup memenuhi garam untuk konsumsi, industri pangan, dan farmasi dalam negeri pada 2025, serta garam untuk industri kimia hingga 2027.

Produksi garam domestik bukan hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi lokal. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh bagaimana sinergi BUMN dapat menimbangkan tantangan global dengan solusi nasional.

Mengembangkan potensi garam dari air buangan desalinasi menjadi langkah inovatif. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi model untuk industri lain yang menggunakan sumber air dalam negeri. Keberhasilan ini membuka peluang untuk Indonesia menjadi pusat produksi garam di Asia Tenggara.

Kolaborasi KPI dan PT Garam tidak hanya mengatasi kekurangan garam, tetapi juga menguatkan ketahanan pangan dan energi. Inilah penting bagi negara yang ingin berdampak positif dalam kawasan yang bersaing. Langkah-langkah ini membuktikan bahwa solusi nasional bisa dikembangkan dengan kerja sama yang tepat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan