Proyek Politik ‘Sacred Defense’ di Iran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Escalasi kekacauan di Teluk Persia terus meningkat, menjadi masalah global yang mempengaruhi stabilitas geopolitik. Oleh karena itu, Iran menghadapi dua jalur sulit: menghadapi kekacauan ekonomi total atau menyerah pada tekanan dari negara-negara Barat, yang berpotensi menghancurkan identitas revolusionernya.

Sebagai negara yang menguasai selat Hormuz, Iran memiliki posisinya strategis yang kritis. Sekitar 20% minyak dan gas dunia mengalir melalui jalur ini setiap hari. Di sektor energi, fenomena ini membentuk ketergantungan global pada Iran sebagai “detter energi”. Untuk Iran, minyak bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan alat pertahanan kedaulatan.

Tapi, ketergantungan Iran pada ekspor minyak menjadi titik lemah yang bisa dipecah oleh negara-negara Barat melalui sanksi. Pertanyaan utama adalah apakah Iran mampu melarutkan krisis ini dan keluar dari tekanan eksternal yang kuat?

Paradoks geopolitik Iran mencerminkan perjuangan antara struktur global dan kekuatan psikologis rakyat. Pemicu utama adalah krisis ekonomi domestik: nilai tukar Rial berkurang hingga lebih dari 1,4 juta per USD, inflasi tinggi, dan kebutuhan pokok melonjak 70%.

Klasifikasi pedagang tradisional “bazaar” yang biasanya mendukung rezim justru melakukan protest. Krisis ini tidak berdiri sendiri; pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya telah mempercepat kebangkitan Iran melalui sanksi “snapback”, serangan infrastruktur nuklir pada 2025, dan penurunan ekspor minyak 50%.

Dampak sanksi sangat luas, menyentuh semua aspek kehidupan rakyat. Penurunan daya beli, krisis kesehatan, ketersedian obat, serta degradasi infrastruktur mengancam masa depan. Secara teoritis, sanksi ditujukan untuk pemerintah, tetapi dalam praktiknya masyarakat merasakan dampaknya secara langsung.

Pemerintah Iran menggunakan strategi persuasif untuk menurunkan ketegangan politik domestik. Secara psikologis sosial, pendekatannya mengacu pada Elaboration Likelhood Model (ELM) yang membedakan processing informasi menjadi sentral dan peripheral.

Strategi pertama adalah penggerakan emosional dengan simbol seperti baliho bendera Iran, yang melekatkan nasionalisme. Fasa ini bertujuan memicu respon emosional instan tanpa argumen logis panjang. Pemerintah membangun narasi “Indonesia kami tanah air” sebagai simbol kekuatan.

Strategi kedua adalah memandu pemikiran rakyat melalui media massa. Pemerintah menyebarkan dokumen pengakuan, pernyataan ancaman dari pemimpin Barat, serta data sanksi untuk membalik dukungan rakyat. Hal ini mengarahkan masyarakat untuk melihat krisis ekonomi sebagai hasil arogansi Barat, bukan kebajikan pemerintah.

Strategi ketiga adalah pemrosesan sentral. Pemerintah menyajikan argumen rasional tentang reformasi mata uang, subsidi pangan, atau skenario perang saudara Suriah. Tujuannya adalah mengajak rakyat untuk mempertimbangkan solusi yang stabil.

Fase terakhir adalah menciptakan dorongan untuk bertindak. Rapat rakyat pro-pemerintah di 13 Januari 2026 menjadi contoh. Televisi pemerintah menampilkan dukungan rakyat yang kuat, sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, menjenangkan demonstran anti-pemerintah sebagai pembuat onar.

Tantangan Iran masa depan nyata. Strategi “Sacred Defense” efektif untuk konsolidasi dukungan dari basis tradisional, tetapi risiko bagi rakyat yang lapar akibat krisis ekonomi. Kesaksian rakyat Iran adalah kunci untuk memahami kearusinan global.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan