Banjir Parah di Daan Mogot: Penumpang TransJakarta Beralih ke Truk

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta Barat – Banjir yang melanda Daan Mogot mendesakkan lahan transportasi, sehingga berbagai kendaraan terpinggirian. Pasir Transjakarta dipaksa turun dari layanannya karena banjir mendorong jalan kaki dan mobil tergantung di jalanan yang dialam. Beberapa masyarakat terpaksa berjalan kaki hingga kilameter untuk menuju tujuan.

Penumpang Fida (29 tahun) menyebutkan kesulitan yang dikerjakan saat melewati banjir. Ia menghabiskan waktu 30 menit hanya untuk melewati jalur dari Jembatan Gantung ke Halte Baru, dengan jalanan yang penuh permukaan basah dan mobil yang berbalik arah. Akhira, ia mengkonfirmasi ke halte transJakarta Taman Kota, lalu berangkat ke Kantor Kalideres menggunakan ojek online.

Hujan yang mulai turun Rabu lalu guncang Jakarta Barat hingga Kamis pagi menciptakan banjir di dua jalur utama Daan Mogot. Genangan mencapai 30 cm di dekat Halte Jembatan Gantung dan 15 cm di sekitar Halte Taman Kota. Hal ini memaksa kendaraan menghindari jalur dalam, meskipun volume lalu lintas masih melimpah.

Kemacetan parah muncul di perempatan lampu merah Cengkareng, di mana kendaraan memutar balik untuk mencari jalan alternatif. Berikutnya, antrean melonjak sepanjang 5,5 kilometer dari Halte Pulo Nangka hingga Gedung Mayora Kalideres. Di malam ini, genangan masih mengganggu 46 RT dan 13 jalan di Jakarta.

Dari sisi positif, masyarakat menunjukkan ketangguhan untuk mengelak banjir. Sejumlah orang menggunakan transportation alternatif seperti ojek atau jalan kaki. Namun, kebutuhan infrastruktur yang lebih baik untuk mengeluar banjir terus menjadi tantangan.

Hujan deras ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan perangawan seperti sistem drenaasi yang efektif. Meskipun kondisi banjir masih berlangsung, penanganan yang cepat dan kolaborasi antarparti menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif.

Semua pihak harus tetap wakil terhadap kebijakan pelestarian lingkungan. Banjir yang terjadi bukan hanya masalah fisik, tapi juga penandaan kesadaran terhadap perubahan iklim. Semoga pengalaman ini bisa menjadi solusi bagi masa depan yang lebih aman.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan