Braille Masih Dibiarkan di Tasikmalaya, Akses Tunanetra Sulit Dikemudikan Karena Pembangunan Visual

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hari Braille Sedunia di Tasikmalaya Menegaskan Inefektivitas Inklusivitas
Kota Tasikmalaya terus memperbaiki infrastruktur fisik, tetapi lupa dalam pengakuan terhadap kebutuhan Tunanetra yang bersifat netra. Peringatan Hari Braille Sedunia pada 29 Januari 2026 di restoran cepat saji mengandung berita-cerita: meski banyak tunanetra ikut, aksesibilitas lingkungan tetap terbatas.

Huruf Braille, meski universal dan tidak terikat pada bahasa atau negara tertentu, masih jadi tulisan tajam di lingkungan publik. Guru SLBN Bungursari, Nabila, mengungkapkan keraguan akan popularitas Braille dibanding bahasa isyarat. Di media sosial, isyarat seperti tawaran atau iklan lebih sering muncul, sementara Braille terasa langu.

Fasilitas umum, termasuk kantor pemerintah, nggak punya penanda Braille. Hal itu membuat Tunanetra netra harus bergantung pada orang lain untuk mengenali ruang. Nabila mengkritik bahwa aksesibilitas dianggap sebagai kelebihan, bukan kebutuhan dasar. Buku Braille mahal dan proses pembelajannya rumit, sehingga alternatif audio lebih realistis.

Solusi lain yang dimuafakan Nabila adalah teknologi audio. Dengan pendengaran yang tidak sensitif pada perabaan, audio menjadi jalan pintas. “Jika Braille sulit dibaca, audio bisa membantu,” kata ia.

Keterbatasan literasi Braille dan kesenjangan fasilitas menunjukkan bahwa Tasikmalaya masih jauh dari inklusivitas sejati. Meskipun kota ini mengaku ramah warga, irisan untuk Tunanetra netra masih tajam.

Tunasukan teknologi digital seperti aplikasi audio atau desain ramah netra bisa jadi langkah awal. Namun, keinginan politik dan pembelajaran masyarakat juga krusial. Tanpa kesadaran, perkembangan fisik kota tetap akan menjadi tumpukan tanpa inti.

Tasikmalaya memiliki potensi untuk menjadi contoh kota inklusif. Namun, ini memerlukan komitmen konkret, bukan hanya simbolis. Harmoni pertumbuhan dan aksesibilitas bukanlah pilihan, tapi keharusan.

Aksesibilitas bukanlah kelebihan, tapi hak dasar. Setiap inovasi atau kebijakan yang mengabaikan Tunanetra netra hanya memperluas irisan sosial. Komitewan, jika kita ingin Tasikmalaya benar-benar ramah semua warga, inilah saatnya agak lebih matang.

Kita bisa mulai dari hal kecil: ubah desain fasilitas, memperluas akses audio, atau mempercepat pembelajaran Braille. Tapi keinginan harus mulai dari kita sendiri. Tanpa inisiatif individu, pemerintah tidak akan bisa berkesinikan.

Hari Braille Sedunia mengingatkan kita bahwa inklusivitas bukanlah tren, tapi nilai yang harus diwujudkan sepenuhnya. Jika kita ingin dunia lebih adil, kita harus mulai dari hal-hal yang terdekat—seperti cara kita memahami dan mendukung Tunanetra yang bersifat netra.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan