Penemuan 2 Kasus Virus Nipah di Nakes di India

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Laporan munculnya kasus virus Nipah di West Bengal, India, memicu reaksi cepat dari Kementerian Kesehatan RI. Meski Indonesia masih tidak mencatat kontaminasi manusia, pemerintah memajukan pengawasan di pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan serta meningkatkan deteksi dini di fasilitas kesehatan.

Peristiwa pertama tercatat pada 12 Januari 2026 di North 24 Parganas, West Bengal. Kasus pertama melibatkan perawat wanita 25 tahun yang bekerja di rumah sakit swasta di Barasat. Pasien mengalami gejala demam dan batuk pada 30 Desember 2025, kemudian kehilangan kesadaran dan sekarang kritis dengan bantuan ventilator. Kasus kedua melibatkan perawat laki-laki yang kontak dengan pasien pertama. Meski gejala demam dan gangguan saraf muncul pada 27 Desember, kondisinya mulai melayang.

Hasil uji RT-PCR pada 13 Januari 2026 melayani keduanya positif virus Nipah. Selain pasien, tiga nakes dan satu dokter juga tercatat sebagai kontak yang berisiko, sehingga keterlibatannya tetap diwaspadai.

Kementerian Kesehatan India menyatakan dua kasus Nipah terdeteksi sejak Desember 2025. Semua kontak teridentifikasi di karantina dan diuji, dengan 196 kontak lain yang hasil uji negatif. Otoritas menekankan pengawasan tetap intensif karena risiko virus zoonosis yang mengikuti jalur kelelawar atau kontak antar manusia.

Virus ini, terdeteksi pertama di Malaysia pada 1990-an, bisa menyebabkan demam tinggi, kejang, dan muntah. Tidak ada vaksin, sehingga pencegahan hanya melalui dukungan medis. Tingkat kematiannya antara 40% hingga 75%, jauh lebih tinggi dari virus corona. Beberapa negara Asia memperkuat pemeriksaan di bandara sebagai langkah preventif, meski otoritas India mengingkari klaim media tentang lonjakan kasus.

Data riset terbaru menunjukkan potensi pengembangan terapi dengan monoklonal antibodi yang bisa mengurangi dampak virus, meski belum tersedia secara komersial. Riset juga mengungkapkan pentingnya deteksi dini melalui teknologi PCR yang lebih sensitif.

Studi kasus dari negara lain menunjukkan bahwa pemberantasan wabah dipengaruhi oleh kecepatan respons otoritas. Misalnya, Malaysia pada wabah 2018 berhasil menahan penyebaran melalui karantina mendasar. Infografis ini menunjukkan jalur penyebaran virus dari hewan ke manusia melalui kontak langsung atau kontaminasi lingkungan.

Kesadaran masyarakat terhadap gejala dini dan kesadaran segera mencari bantuan medis sangat krusial. Virus Nipah tidak hanya berpotensi memancarkan krisis kesehatan, tetapi juga mengancam ekonomi lokal. Perhatian terhadap risiko di-area grense dengan negara berisiko tinggi seperti Bangladesh menjadi prioritas.

Siapakah siap menghadapi ancaman virus zoonosis yang tidak terlibat vaksin? Aksi cepat dan berbasis pengetahuan adalah kunci untuk mempertahankan kesehatan global.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan