Dokter Ungkap Efek GERD pada Tubuh, Kebiasaan Ini Jadi Pemicu.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tubuh manusia memberikan sinyal ketika terjadi gangguan kesehatan, salah satunya melalui Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Kondisi ini belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak pihak memperdebatkan apakah penyakit ini bisa menyebabkan kematian mendadak.

Menjawab pertanyaan tersebut, spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa GERD tidak akan menyebabkan kematian secara langsung. Meski begitu, kondisi ini tetap berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan. Asam lambung yang naik berulang kali dapat menyebabkan erosi atau luka pada esofagus, memicu penyempitan saluran, hingga berpotensi menjadi kanker esofagus. Iritasi ini juga dapat merambat ke bagian tubuh lain, memicu batuk kronis yang tidak kunjung sembuh, karies gigi, hingga sinusitis.

Pemicu dan Mekanisme GERD

GERD terjadi karena melemahnya fungsi sfingter, yakni katup yang menghubungkan esofagus dan lambung. Normalnya, katup ini akan menutup rapat setelah makanan masuk ke lambung agar isinya tidak naik kembali. Namun, paparan asam lambung berlebih dalam waktu lama serta faktor psikologis seperti stres dapat melemahkan otot-otot katup tersebut. Akibatnya, katup tidak bisa menutup sempurna dan memicu refleks naiknya isi lambung ke atas.

dr Aru menyebutkan, kelebihan asam lambung dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, kelainan anatomis, hingga gaya hidup. Pola hidup yang salah dan stres menjadi penyumbang terbesar terjadinya gangguan ini. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, makanan pedas berlebihan, serta makanan asam turut memicu peningkatan produksi asam lambung dan merusak dinding lambung serta katup esofagus. GERD pada dasarnya merupakan komplikasi dari gangguan asam lambung berlebih yang dipicu oleh kombinasi faktor genetik, stres, dan pola makan tidak sehat.


Peningkatan kasus GERD saat ini tidak lepas dari perubahan gaya hidup modern yang didominasi oleh stres dan pola makan tidak teratur. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa asam lambung yang tidak terkendali dalam jangka panjang tidak hanya merusak saluran cerna, tetapi juga berdampak pada kesehatan saluran pernapasan. Data kesehatan global menyoroti pentingnya manajemen stres dan perbaikan pola makan sebagai langkah utama pencegahan. Analisis sederhana menunjukkan bahwa tubuh kita bekerja seperti mesin; jika bahan bakar (makanan) yang masuk berkualitas buruk dan sistem pendingin (stres) bermasalah, maka komponen utama sistem pencernaan akan mengalami kebocoran.

Sebagai ilustrasi, bayangkan katup esofagus sebagai pintu air. Jika tekanan dari dalam (asam lambung dan stres) terus menerus mendorong dan material pintu (dinding katup) mulai rapuh akibat makanan asam, lama-kelamaan pintu tersebut tidak akan bisa menahan air. Studi kasus sering ditemui pada pekerja kantoran yang mengandalkan kopi dan makanan instan; mereka sering mengeluhkan rasa panas di dada (heartburn) yang sebenarnya adalah alarm peringatan dini sebelum kerusakan struktural terjadi pada esofagus. Infografis sederhana tentang siklus GERD biasanya menunjukkan alur: Makanan Pedas/Asam -> Produksi Asam Berlebih -> Sfingter Melemah -> Asam Naik -> Iritasi. Memutus rantai di awal adalah kunci efektif.

Mengelola asam lambung bukan hanya soal menghindari makanan tertentu, melainkan juga tentang menjaga keseimbangan mental dan fisik. Setiap gejala yang muncul adalah pesan dari tubuh agar kita lebih memperhatikan diri sendiri sebelum kondisi menjadi lebih parah. Mulailah hari dengan pilihan yang lebih bijak, karena kesehatan pencernaan adalah fondasi utama energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan