Kabel Terkesan Dibiarkan Semrawut di Jalan Raya Garut-Tasikmalaya, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kondisi jaringan kabel optik yang berserakan di ruas jalan utama Tasikmalaya menuju Singaparna, tepatnya di Jalan Garut-Tasikmalaya, menjadi sorotan utama warga karena menimbulkan ketidaknyamanan dan membahayakan pengguna jalan. Ketidaktertiban kabel yang menjuntai rendah ini tidak hanya mengganggu pemandangan gerbang ibu kota kabupaten, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara sepeda motor yang kerap melintas di area tersebut.

Menjadi semakin parah setelah proyek perbaikan jalan provinsi di segmen Tasikmalaya–Singaparna selesai pada akhir 2025, situasi kabel justru terlihat lebih berantakan. Alih-alih mendukung estetika infrastruktur yang baru diperbaiki, kabel-kabel tersebut tampak terbengkalai tanpa penataan ulang, dengan puluhan kabel hitam saling bertautan tanpa ikatan kuat dan menggantung sangat rendah, bahkan nyaris menyentuh atap truk atau bus yang melintas.

Warga Desa Cikadongdong, Nanang (47), menyuarakan kekhawatirannya terhadap keselamatan berkendara, khususnya saat kondisi gelap atau cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang. Dia menilai pemasangan kabel oleh penyedia layanan internet dilakukan tanpa standar keamanan, mengabaikan risiko tersangkut yang bisa berujung pada kecelakaan fatal tanpa pertanggungjawaban jelas dari pihak terkait.

Keresahan serupa dirasakan Nurdin (31), warga Leuwisari yang setiap hari melewati jalur ini untuk bekerja. Dia menyoroti dampak visual yang merusak citra Singaparna sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, di mana keberadaan kabel acak-acakan seperti benang kusut membuat kawasan tersebut terkesan kumuh dan tidak terawat.

Masyarakat tidak hanya mengeluh, tetapi juga mendesak adanya tindakan tegas dari pemerintah daerah dan operator telekomunikasi. Permintaan warga mengarah pada penataan ulang jaringan, seperti pengikatan kabel secara terstruktur atau pembundelan, untuk meminimalisir bahaya. Lebih jauh, ada usulan agar regulasi jangka panjang diterapkan, termasuk opsi pemindahan seluruh jaringan kabel ke bawah tanah demi menjamin keamanan, kenyamanan, dan keindahan tata kota di masa depan.

Kabel optik yang terlihat seperti sarang laba-laba raksasa di atas jalan raya bukan sekadar pemandangan buruk, melainkan ancaman nyata yang memerlukan respons segera. Data riset kecelakaan lalu lintas sering menunjukkan bahwa faktor infrastruktur fisik seperti kabel rendah menjadi penyebab terselubung yang jarang ditindaklanjuti, padahal angka kecelakaan pengendara motor akibat tersangkut benda asing di jalur padat seperti Tasikmalaya-Singaparna cenderung meningkat setiap tahunnya. Pendekatan modern saat ini menyarankan integrasi data GIS (Sistem Informasi Geografis) oleh pemkab untuk memetakan titik rawan kabel longgar, sebelum insiden terjadi. Selain itu, studi kasus di beberapa kota besar seperti Bandung menunjukkan bahwa program bundling kabel oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJTI) mampu mengurangi 60% risiko kabel putus dan tersangkut dalam tempo satu tahun jika dilakukan secara masif.

Pemerintah daerah perlu segera bertindak tegas dengan menggelar rapat koordinasi bersama seluruh provider internet untuk menertibkan aset mereka, karena biaya perbaikan jauh lebih murah dibanding ganti rugi akibat kecelakaan. Masyarakat juga harus proaktif melaporkan titik kabel membahayakan melalui saluran resmi, menciptakan tekanan publik yang memaksa perbaikan infrastruktur segera dilakukan. Jangan biarkan ketidaknyamanan ini berlarut-larut, saatnya kita bersama menjaga keselamatan di jalan raya dengan mendorong penataan kabel yang lebih profesional dan berkelanjutan demi masa depan Tasikmalaya yang lebih aman dan indah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan