Ahli Jiwa imbau masyarakat berempati dan tidak asal sebar foto pasca meninggalnya Lula Lahfah.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Foto yang diduga kuat menampilkan sosok selebgram Lula Lahfah dalam keadaan terbaring di apartemennya kini tengah viral dan tersebar luas di media sosial. Unggahan tersebut disertai narasi yang menyebut jika momen tersebut adalah penemuan jasad Lula yang sudah tidak bernyawa pada Jumat, 23 Januari 2026. Meskipun kebenaran foto tersebut masih dipertanyakan, cara penyebaran konten semacam ini mendapat sorotan tajam lantaran dianggap melanggar etika dan berpotensi menimbulkan dampak psikologis serius, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan.

Menanggapi fenomena ini, psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa penyebaran foto-foto sensitif di ruang publik bisa melukai psikologi keluarga korban secara mendalam. “Bayangkan duka keluarga yang belum pulih, lalu harus melihat ulang kematian orang tercinta, sekaligus menghadapi komentar, spekulasi, dan penyebaran foto di ruang publik. Ini bisa memperpanjang proses berduka dan memicu complicated grief,” ujar dr. Lahargo kepada Thecuy.com pada Sabtu (24/1).

Ia menjelaskan bahwa complicated grief adalah kondisi duka yang berlangsung lebih lama, lebih berat, dan lebih mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari dibandingkan proses berduka normal. Paparan berulang terhadap gambar atau narasi kematian orang tercinta dipercaya dapat memperparah kondisi tersebut. Oleh karena itu, dr. Lahargo mengingatkan pentingnya etika dalam bermedia sosial, terutama saat menghadapi kabar duka.

“Tidak semua yang bisa dibagikan itu pantas dibagikan. Empati lebih penting daripada rasa ingin tahu. Klik dan share yang kita lakukan dapat memberikan dampak psikologis nyata bagi orang lain,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa cara terbaik menunjukkan kepedulian adalah dengan mendoakan dan menghentikan penyebaran konten sensitif. “Kalau ingin peduli, cukup doakan. Kalau ingin berempati, hentikan penyebaran. Berita boleh cepat, tapi empati jangan tertinggal. Menahan jempol kadang lebih menyelamatkan daripada menekan tombol share,” kata dr. Lahargo.

Dari sisi kepolisian, Polres Metro Jakarta Selatan telah menyatakan tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan pada jenazah Lula Lahfah. Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Murodih, mengungkapkan bahwa petugas menemukan obat-obatan dan surat rawat jalan di dalam apartemen Lula. “Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, namun ditemukan obat-obatan sama surat rawat jalan dari RSPI,” ujar Murodih, dikutip dari Antara, Sabtu (24/1/2026).

Penemuan jasad tersebut terjadi pada Jumat (23/1) malam sekitar pukul 18.44 WIB di apartemen Lula yang berada di lantai 25, kawasan Jalan Dharmawangsa, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami penyebab pasti meninggalnya selebgram berusia 26 tahun tersebut.

Dunia digital seringkali membuat batasan antara privasi dan konsumsi publik menjadi kabur. Setiap konten yang kita bagikan memiliki bobot konsekuensi, terutama bagi nyawa yang telah berlalu. Daripada terjebak dalam pusaran spekulasi dan sensasi, mari gunakan ruang digital untuk menyebarkan belas kasih dan penghormatan. Hargai proses berduka keluarga yang ditinggalkan dengan menahan diri dari menyebarkan gambar-gambar menyedihkan. Ingatlah, dalam kecepatan informasi, kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas utama.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan