Kementerian ESDM Buka Suara Soal Pasokan Batu Bara Indonesia Capai 40% Pasar Global

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Indonesia menempati posisi strategis sebagai salah satu pemasok batu bara terbesar di pasar global. Data menunjukkan bahwa volume ekspor batu bara negara ini mencapai sekitar 500 juta ton, yang setara dengan 40% dari keseluruhan transaksi perdagangan dunia yang tercatat sebanyak 1,5 miliar ton.

Tri Winarno, selaku Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, memaparkan angka produksi batu bara global yang berkisar antara 8,9 hingga 9,1 miliar ton per tahunnya. Mayoritas hasil produksi ini, yaitu sebesar 74%, bersumber dari kawasan Asia. China memimpin dengan kontribusi 52%, diikuti oleh India sebesar 12%, sementara Indonesia berada di posisi berikutnya dengan porsi 8%. Sisanya berasal dari berbagai negara Asia lainnya.

“Meskipun kontribusi produksi kita hanya 8%, total perdagangan batu bara di dunia saat ini sekitar 1,5 miliar ton. Sekitar 500 juta ton di antaranya berasal dari Indonesia. Ini berarti Indonesia menyumbang di atas 30% dan berpotensi mencapai 40% dari total perdagangan tersebut,” ujarnya dalam acara Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2026).

Tak hanya batu bara, Tri juga menyoroti komoditas mineral lain yang mendunia, yaitu nikel. Dari total produksi nikel global yang berkisar 3,2-3,4 juta ton, Indonesia berhasil menyumbang 65% atau setara dengan 2,2 juta ton. “Sebanyak 65% produksi nikel dunia berasal dari Indonesia. Hal ini menegaskan posisi kita yang sangat utama dalam industri pertambangan ini,” tegasnya.

Indonesia kini berada di garda terdepan dalam peta produksi mineral global, khususnya untuk komoditas batu bara dan nikel. Kontribusi besar ini bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari kekuatan sektor pertambangan yang menjadi tulang punggung ekonomi. Dengan posisi yang begitu strategis, terbuka lebar peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi juga menguasai rantai nilai industri hilirisasi. Ini adalah momentum emas untuk meningkatkan nilai tambah domestik dan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.

Penguasaan pasar global oleh kedua komoditas unggulan ini membawa tantangan sekaligus peluang besar. Pemerintah dan pelaku industri perlu berkolaborasi untuk memastikan bahwa kekayaan sumber daya alam ini dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi bangsa. Masa depan industri pertambangan Indonesia bergantung pada inovasi dan kebijakan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi yang ada.

Melihat dominasi Indonesia dalam pasar batu bara dan nikel global, saatnya kita memanfaatkan momentum ini untuk mendorong transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Setiap langkah dalam pengelolaan sumber daya alam harus mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Mari kita jaga kekayaan alam ini sebagai warisan berharga untuk generasi mendatang, sekaligus menjadikannya sebagai pendorong utama dalam mencapai kemajuan industri nasional.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan