Tembok GOR di Kemayoran Jakarta Pusat Roboh, 11 Motor Tertimpa Reruntuhan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tembok bangunan Gedung Olahraga (GOR) yang berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, tiba-tiba ambruk dan menimpa sebelas unit sepeda motor yang terparkir di bawahnya. Peristiwa ini terjadi pada Jumat malam, 23 Januari 2026, sekitar pukul 21.19 WIB.

Keterangan dari Kapolsek Kemayoran, Kompol Agung Ardiansyah, menyebutkan bahwa insiden tersebut pertama kali dilaporkan oleh satpam GOR setempat. “Menurut keterangan Bapak Robby, sekuriti GOR Kemayoran, tiba-tiba tembok dari lantai 3 roboh dan menimpa sebanyak 11 kendaraan,” ujar Agung pada Sabtu (24/1/2026).

Meski material bangunan yang jatuh cukup besar, Agung memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. “Korban jiwa nihil, kerugian materil belum dapat ditafsir,” tambahnya. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendataan lebih lanjut mengenai nilai kerusakan yang dialami.

Video detik-detik ambruknya tembok GOR tersebut sontak menjadi viral di berbagai platform media sosial. Menanggapi hal ini, kepolisian telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara intensif. Beberapa langkah yang diambil termasuk pemanggilan tim Inafis untuk pemeriksaan forensik, memeriksa sejumlah saksi mata, dan pemasangan garis polisi di sekitar area ambruk untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.


Keruntuhan struktur bangunan di area publik sering kali menjadi sorotan utama mengenai standar keamanan konstruksi di perkotaan. Peristiwa di Kemayoran ini menunjukkan betapa krusialnya pemeriksaan berkala terhadap keutuhan infrastruktur, terutama bangunan bertingkat yang berada di atas area parkir atau lalu lintas pejalan kaki. Material beton yang rapuh akibat usia bangunan atau faktor cuaca ekstrem perlu diantisipasi sejak dini untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, bukan hanya kerugian materiil.

Kajian terbaru tentang manajemen risiko bangunan di Jakarta menyarankan adanya audit rutin setiap lima tahun sekali untuk gedung-gedung tua. Pendekatan preventif ini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan pasca-bencana. Pemilik gedung harus proaktif dalam mengevaluasi struktur, termasuk memeriksa retakan halus pada dinding yang mungkin menjadi indikasi kelemahan struktural sebelum ambruk total.

Studi kasus serupa pernah terjadi di kawasan industri Tangerang pada tahun 2023, di mana atap pabrik ambruk menimpa mesin produksi. Penyebab utamanya adalah korosi pada tiang penyangga akibat kebocoran atap yang tidak segera diperbaiki. Pelajaran dari kasus tersebut adalah bahwa pemeliharaan rutin harus menjadi prioritas, bukan sekadar biaya tambahan. Jika dibiarkan, kerusakan kecil dapat berujung pada kerugian besar, baik secara finansial maupun keselamatan nyawa.

Teknologi modern saat ini menawarkan solusi melalui penggunaan sensor IoT (Internet of Things) yang dapat memantau getaran dan pergeseran struktur bangunan secara real-time. Namun, di balik kemajuan teknologi, kesadaran manusia tetap menjadi kunci utama. Pemerintah dan pengelola gedung perlu berkolaborasi lebih erat dalam menerapkan standar keamanan yang ketat, agar kejadian serupa di Kemayoran tidak lagi berulang.

Melihat insiden ini, penting bagi kita semua untuk lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, terutama saat berada di dekat bangunan tua atau yang sedang dalam proses perbaikan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama; mulailah dengan melaporkan kerusakan kecil sebelum menjadi bencana besar. Jangan biarkan kelalaian masa lalu mengancam keselamatan di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan