Amerika Serikat secara resmi telah meninggalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebuah keputusan yang menurut Teuku Rezasyah, Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad), akan membawa implikasi signifikan terhadap sektor kesehatan global. Keluarnya negara adidaya tersebut diproyeksikan mempengaruhi berbagai aspek kesehatan internasional, mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu penghasil utama produk dan riset farmasi dunia.
Meskipun demikian, Rezasyah menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu merasa rendah diri menghadapi situasi ini. Ia menilai bahwa bangsa Indonesia telah menunjukkan kemajuan pesat dalam pembangunan kesehatan, terutama setelah pengalaman menangani pandemi Covid-19. Bukti nyata kemajuan tersebut terlihat dari keberhasilan membangun infrastruktur kesehatan yang berbasis kemandirian nasional sekaligus memperluas jaringan kerja sama internasional.
Situasi ini justru dimanfaatkan sebagai momentum emas untuk memperkuat solidaritas kesehatan di tingkat regional maupun global. Indonesia didorong untuk lebih mempererat kerja sama di kawasan ASEAN, Gerakan Non-Blok (GNB), serta memperdalam kerja sama Selatan-Selatan. Di tengah dinamika ini, peran kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi krusial. Efisiensi di berbagai sektor yang dilakukan pemerintah diharapkan dapat dialihkan untuk memperkuat fondasi sektor kesehatan dalam negeri.
Proses keluarnya Amerika Serikat dari WHO ini telah resmi diselesaikan, dikonfirmasi oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) AS pada Kamis waktu setempat. Keputusan ini merupakan realisasi dari agenda lama Presiden Donald Trump yang kembali mengeluarkan perintah eksekutif pada hari pertama masa jabatan keduanya. Sesuai aturan internasional, AS telah memenuhi kewajiban dengan memberikan pemberitahuan satu tahun sebelumnya dan melunasi seluruh kewajiban finansialnya.
Sebagai bagian dari proses ini, HHS mengumumkan bahwa semua pendanaan pemerintah AS untuk WHO telah dihentikan. Seluruh personel dan kontraktor AS yang bekerja di WHO telah ditarik, dan negara tersebut tidak lagi terlibat dalam komite, struktur kepemimpinan, badan tata kelola, maupun kelompok kerja teknis yang disponsori WHO.
Data dan Analisis Kontemporer
Keputusan AS meninggalkan WHO menimbulkan berbagai spekulasi mengenai masa depan tata kelola kesehatan global. WHO selama ini sangat bergantung pada kontribusi finansial besar dari AS. Menurut laporan keuangan WHO tahun 2022-2023, AS merupakan penyumbang dana terbesar, dengan kontribusi mencapai sekitar 16% dari total anggaran inti organisasi. Hilangnya pendanaan ini memaksa WHO untuk melakukan restrukturisasi anggaran besar-besaran, berpotensi memperlambat respons terhadap krisis kesehatan global di masa depan.
Dari sisi riset, AS telah menjadi pusat inovasi vaksin dan terapi global. Namun, negara-negara berkembang kini mulai mempercepat inisiatif kemandirian. Di Asia Tenggara, misalnya, terjadi peningkatan investasi dalam riset vaksin mRNA lokal dan pengembangan pusat data kesehatan regional yang terintegrasi tanpa harus melalui kanal sentral AS. Ini membuka peluang bagi negara seperti Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemimpin kesehatan regional.
Studi Kasus: Ketahanan Kesehatan Indonesia Pasca-Pandemi
Ketahanan sistem kesehatan Indonesia diuji selama pandemi COVID-19, yang menjadi titik balik transformasi. Sebelum pandemi, ketergantungan pada impor alat kesehatan sangat tinggi (sekitar 90%). Namun, pada tahun 2024, data menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi domestik APD, reagen PCR, dan bahan baku obat hingga mencapai 60% pemenuhan kebutuhan nasional.
Salah satu contoh nyata adalah pengembangan vaksin Merah Putih oleh PT Bio Farma. Meskipun prosesnya menghadapi tantangan regulasi dan teknis, inisiatif ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk tidak bergantung pada pasokan luar negeri. Jika efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah berhasil dialokasikan ke sektor ini, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi vaksin dan obat-obatan untuk negara-negara berkembang lainnya, mengisi kekosongan yang mungkin ditinggalkan oleh berkurangnya dominasi AS dalam jaringan global.
Transformasi digital kesehatan juga menjadi kunci. Platform telemedisin yang berkembang pesat selama pandemi kini menjadi bagian integral dari layanan primer. Ini memungkinkan akses kesehatan yang merata hingga ke daerah terpencil, mengurangi ketergantungan pada konsultasi internasional yang mahal.
Infografis Visualisasi (Deskripsi Konseptual):
Bayangkan sebuah diagram alur yang menunjukkan “Kemandirian Kesehatan Indonesia”:
- Pilar Impor (Warna Merah): Menurun drastis dari 90% (2019) menjadi 40% (2024).
- Pilar Produksi Domestik (Warna Hijau): Meningkat tajam dari 10% menjadi 60%.
- Pilar Kerja Sama Regional (Warna Biru): Membentuk jaringan ASEAN Health Crisis Task Force.
- Pusat Inovasi: Titik fokus pada kluster bioteknologi di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Visualisasi ini menegaskan bahwa meskipun kekuatan luar berkurang, fondasi dalam negeri justru menguat.
Pandangan Penutup
Dunia kesehatan global sedang berada di persimpangan jalan dengan perginya salah satu pemain terbesarnya. Namun, krisis seringkali melahirkan peluang baru. Bagi Indonesia, ini adalah saatnya untuk membuktikan bahwa kemandirian bukan hanya retorika, melainkan sebuah nyata yang dibangun melalui riset lokal, kerja sama regional yang solid, dan kebijakan yang tegas. Jangan biarkan kekosongan kekuatan besar di satu sisi membuat kita lemah; justru gunakan momentum ini untuk berdiri lebih kokoh dan menjadi pilar kesehatan bagi bangsa-bangsa yang mencari alternatif solusi. Mari kita bangun sistem kesehatan yang tangguh, mandiri, dan berdaulat untuk masa depan yang lebih sehat.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.