BNPB Kerahkan 6 Pesawat Modifikasi Cuaca untuk Atasi Polusi Udara di Jabodetabek

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperluas jangkauan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menerbangkan enam pesawat sekaligus. Penambahan jumlah armada ini dilakukan sebagai respons atas prediksi BMKG yang menyebutkan potensi hujan dengan intensitas cukup lebat akan terjadi dalam periode minggu ini dan minggu depan.

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menyatakan penambahan kekuatan ini melibatkan empat unit pesawat dari BNPB, satu unit dari Pemda DKI, dan satu unit lagi dari Pemda Jawa Barat. Cakupan operasionalnya mencakup seluruh wilayah DKI Jakarta serta kawasan penyangga ibu kota. Awalnya, operasi ini hanya melibatkan dua pesawat, namun kini diperkuat menjadi enam untuk mengantisipasi curah hujan yang signifikan.

Berdasarkan evaluasi yang disampaikan oleh Plt. Kapusdatin BNPB, Muhari, operasi modifikasi cuaca terbukti efektif dengan tingkat keberhasilan mencapai 48 persen sejak penerapannya pada rentang waktu 12 hingga 22 Januari 2026. Penting untuk dipahami bahwa tujuan utama dari teknik ini bukanlah menghentikan hujan sama sekali, melainkan mengatur intensitasnya. Metode ini bertujuan mengubah potensi hujan ekstrem menjadi hujan lebat, dan hujan lebat menjadi hujan sedang guna meminimalkan risiko bencana.

Selama periode 10 hari operasi, sebanyak 32.000 kilogram garam telah disebar ke udara. Rata-rata aktivitas penerbangan dilakukan sebanyak tiga kali sortie per hari, dengan muatan garam antara 1 hingga 1,5 ton untuk setiap kali terbang. Secara teknis, proses yang dilakukan adalah dengan menyemai garam pada awan cumulonimbus yang bergerak dari arah barat ke timur melalui koridor Banten-Jakarta untuk memicu presipitasi sebelum awan mencapai area padat penduduk.

Meskipun upaya modifikasi cuaca terus digencarkan, Muhari menegaskan bahwa solusi jangka panjang untuk banjir di Jakarta tidak hanya bergantung pada hujan. Peremajaan sistem drainase primer, sekunder, dan tersier di Ibu Kota tetap menjadi kunci vital yang perlu segera direvitalisasi secara menyeluruh untuk menyerap air hujan secara optimal.

Pemantauan terkini menunjukkan bahwa pola cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek cenderung meningkat selama beberapa tahun terakhir, dengan curah hujan tertinggi sering terjadi pada bulan Januari dan Februari. Data historis menunjukkan bahwa intervensi melalui OMC mampu menurunkan intensitas hujan hingga 20-30 persen di area target, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kelembapan udara dan kecepatan angin. Penambahan armada pesawat menjadi enam unit ini diharapkan dapat mempercepat waktu respons terhadap awan yang mengarah ke area kritis, mengingat kepadatan populasi di Jakarta yang memperparah dampak genangan air. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana yang terintegrasi, di mana teknologi udara berkolaborasi dengan manajemen air berbasis darat.

Penggunaan garam sebagai agen hujan buatan memanfaatkan prinsip higroskopis, di mana partikel garam menarik molekul air di atmosfer untuk membentuk tetesan air yang lebih besar dan jatuh sebagai hujan. Proses ini dilakukan secara selektif pada awan yang memiliki potensi hujan tinggi untuk mengurangi beban air sebelum mencapai permukaan tanah. Namun, keberhasilan OMC tidak bisa sepenuhnya menggantikan fungsi infrastruktur drainase yang buruk. Oleh karena itu, sinergi antara teknologi modifikasi cuaca dan perbaikan tata ruang kota menjadi sangat penting. Masyarakat juga diimbau untuk tidak hanya bergantung pada prediksi cuaca, tetapi juga proaktif dalam menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing untuk mencegah tersumbatnya aliran air saat hujan turun.

Dengan memahami bahwa hujan adalah fenomena alam yang tidak bisa dihilangkan, strategi terbaik adalah mengelolanya agar dampaknya tidak merusak tatanan kehidupan. Teknologi modifikasi cuaca yang diperkuat dengan enam pesawat ini adalah langkah nyata dalam mengurangi risiko banjir, namun keberhasilan penuh hanya bisa dicapai jika didukung oleh kesadaran kolektif dan infrastruktur yang memadai. Mari kita lihat hujan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai sumber daya yang perlu dikelola dengan bijak, guna membangun ketahanan kota yang lebih tangguh di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan