Jika PHK dan Tidak Punya Uang, Segera Siapkan 5 Hal Ini untuk Bertahan Hidup

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di berbagai sektor industri belakangan ini telah menekan daya beli masyarakat kelas menengah. Ketidakpastian ekonomi yang melanda Indonesia memperburuk kondisi finansial banyak orang, terutama dengan menyusutnya lapangan pekerjaan baru.

Data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat jumlah pekerja yang ter-PHK sepanjang tahun 2025 telah menyentuh angka 88.519 orang. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan capaian periode Januari hingga Desember 2024 yang tercatat sebanyak 77.965 orang.

Data tersebut baru mencakup peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) BPJS Ketenagakerjaan. Angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar karena belum termasuk sektor informal maupun pekerja yang tidak terdaftar dalam program JKP, yang mengindikasikan tingginya kerentanan kehilangan sumber pendapatan saat ini.

Dana Darurat

Di tengah situasi yang serba tidak menentu ini, keberadaan dana darurat menjadi faktor krusial bagi kelompok menengah dengan pendapatan pas-pasan. Dana ini berfungsi sebagai pelindung finansial saat menghadapi situasi tak terduga, mulai dari kehilangan pekerjaan, bencana alam, hingga kebutuhan mendesak lainnya.

Tejasari, Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, menegaskan pentingnya dana tersebut. “Dana darurat memang digunakan untuk kebutuhan darurat, musibah, bencana, yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Ketika ada masalah dan kita perlu uang cepat, maka dana darurat akan sangat menolong kita untuk melewati masa sulit itu,” ujarnya kepada Thecuy.com.

Tanpa simpanan cadangan, seseorang cenderung akan terjerat utang saat menghadapi musibah. Kondisi ini akan semakin parah jika keuangan mereka sebelumnya sudah dibebani utang yang menumpuk hingga masuk dalam daftar hitam perbankan, sehingga akses untuk meminjam dana tambahan menjadi tertutup.

Menentukan Jumlah Ideal

Para ahli menyarankan masyarakat, khususnya kalangan menengah, untuk menyiapkan dana darurat minimal setara tiga kali rata-rata pengeluaran bulanan. Semakin besar simpanan yang dimiliki, semakin aman posisi finansial seseorang.

Tejasari menjelaskan perhitungan sederhananya. “Secara teori kebutuhan dana darurat adalah tiga kali pengeluaran bulanan. Misalnya gaji Rp 5 juta, kita tabung Rp 500 ribu dan pengeluaran bulanan Rp 4,5 juta. Maka dana darurat disarankan minimal Rp 4,5 juta kali 3, sama dengan Rp 13,5 juta,” paparnya.

Panduan berbeda datang dari Perencana Keuangan Eko Endarto. Ia menilai ketidakpastian ekonomi saat ini menuntut persiapan yang lebih matang. Untuk karyawan, dana darurat idealnya setara 3 hingga 6 bulan gaji. Sementara bagi pengusaha atau pekerja lepas, minimal dana yang diperlukan adalah untuk menutupi pengeluaran operasional dan hidup selama satu tahun penuh.

Strategi Mengumpulkan Dana Darurat

Tantangan terbesar masyarakat kelas menengah adalah kesulitan menyisihkan pendapatan karena seluruhnya habis untuk kebutuhan harian. Menjawab hal ini, Tejasari menyarankan untuk memulai menabung dengan nominal kecil terlebih dahulu, meskipun hanya 1% dari penghasilan, asalkan dilakukan secara konsisten.

Metode bertahap ini terbukti lebih efektif daripada memaksakan target besar yang justru memberatkan. Misalnya, bagi pemegang gaji Rp 5 juta, menyisihkan Rp 50 ribu per bulan adalah langkah awal yang realistis. Dana tersebut sebaiknya langsung dipisahkan di hari gajian ke dalam rekening tabungan atau instrumen investasi aman seperti reksa dana pasar uang atau tabungan emas.

Setelah kebiasaan ini terbentuk, nominal setoran bisa dinaikkan secara perlahan, misalnya menjadi Rp 100 ribu, hingga target dana darurat terpenuhi. Eko Endarto menambahkan, prinsip utamanya adalah mengutamakan tabungan terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan konsumsi.

“Mulai dengan sisihkan 10% dari penghasilan bulanan sampai terkumpul dana sesuai yang dibutuhkan,” tegas Eko. Pendekatan ini mengharuskan seseorang untuk menyesuaikan gaya hidup dan pengeluaran harian berdasarkan sisa anggaran yang ada, bukan sebaliknya.

Langkah Proaktif Menghadapi Resesi

Ketergantungan pada satu sumber pendapatan menjadi risiko besar di era disrupsi ekonomi seperti sekarang. Mempersiapkan dana darurat bukan hanya soal menabung, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi risiko finansial jangka panjang. Tanpa persiapan ini, setiap guncangan ekonomi bisa berujung pada krisis berkepanjangan.

Mulailah menghitung ulang rasio keuangan pribadi dan identifikasi pos-pos pengeluaran yang bisa dioptimalkan. Jika dana darurat belum terbentuk, jangan menunggu lebih lama lagi. Tindakan kecil yang konsisten hari ini akan memberikan perlindungan yang sangat berarti saat krisis melanda besok.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan