Biksu AI Buatan Pria Israel Tertipu Jutaan Follower

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Nama biksu yang dikenal sebagai Yang Mun berhasil menyedot perhatian publik dengan jumlah pengikut yang fantastis di media sosial Instagram. Namun, kepopuleran sosok biksu tua berwajah oriental yang kerap muncul di berbagai sudut vihara ini terungkap sebagai hasil buatan kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh pria asal Israel. Sosok ini sebelumnya dikenal sering berbagi nasihat bijaksana mengenai berbagai permasalahan hidup dan kesehatan mental.

Akun Instagram Yang Mun, dengan total pengikut lebih dari 3,6 juta dari dua akun berbeda, telah menarik minat banyak kalangan, mulai dari seniman, novelis, pekerja kreatif, hingga politisi. Ucapannya yang mengena di hati membuat banyak orang menganggapnya sebagai sosok spiritual sejati. Akan tetapi, di balik popularitasnya, terdapat kebohongan besar yang dibongkar oleh Mitch Clark, seorang selebgram terkenal dengan konten pembongkaran hoax di akun @mitchckofficial.

Mitch Clark mengungkapkan bahwa tidak ada sosok biksu Yang Mun di dunia nyata. Semua ini adalah rekayasa Shalev Hani, seorang pria Israel yang memanfaatkan AI untuk menciptakan karakter tersebut demi kepentingan komersial. “Ini cuma buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Dia bikin karakter ini untuk jualan e-book dan jualan kursus spiritual. Semua skrip buatan AI. Ini scam besar-besaran,” ujar Mitch Clark. Bahkan, Eurovision News turut menginvestigasi dan menggunakan detektor AI dari Google, SynthID, yang memastikan video-video Yang Mun dihasilkan oleh Google AI Studio atau Veo.

Lebih jauh, investigasi Eurovision News menemukan bahwa situs web yang terhubung dengan akun medsos Yang Mun menjual buku-buku filosofi hidup dengan harga USD 11 hingga 50. Menariknya, isi buku, rilis pers, hingga testimonial yang ditampilkan diduga kuat juga dihasilkan oleh AI. Shalev Hani sendiri diketahui sebagai pencipta digital dan AI storyteller yang enggan memberikan komentar ketika dikonfirmasi media. “Saya bukan orang yang tepat untuk berkomentar mengenai Yang Mun dan tidak ingin berdiskusi dengan media,” tulisnya, menutup rapat aksi penipuan digital yang dilakukannya.

Analisis Konten AI dalam Dunia Spiritual

Maraknya penggunaan AI untuk menciptakan tokoh fiktif seperti Yang Mun menandai babak baru dalam manipulasi konten digital di media sosial. Fenomena ini menggambarkan bagaimana teknologi dapat disalahgunakan untuk memanipulasi emosi dan kepercayaan publik demi keuntungan finansial. Banyak pengguna media sosial yang rentan terhadap nasihat-nasihat spiritual yang terkesan bijak, namun ternyata berasal dari algoritma yang diprogram untuk meniru gaya bahasa manusia.

Penggunaan teknologi seperti Google AI Studio memungkinkan pembuatan video yang realistis tanpa melibatkan aktor manusia sama sekali. Hal ini memunculkan tantangan baru bagi platform media sosial untuk mendeteksi konten buatan AI yang mungkin menyesatkan. Sementara itu, kasus ini juga menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih kritis terhadap informasi yang diterima, terutama yang berkaitan dengan nasihat kehidupan dan spiritualitas yang dipromosikan secara masif.

Studi Kasus: Skema Monetisasi Konten Fiktif

Dalam kasus Yang Mun, skema monetisasi yang digunakan cukup rapi dan terstruktur. Mulai dari membangun citra akun yang konsisten dengan konten bijak, menarik follower setia, hingga mengarahkan mereka ke laman penjualan produk digital. Produk yang dijual berupa e-book dan kursus spiritual online dengan harga yang cukup fantastis untuk produk digital. Ini menunjukkan bahwa di balik layar, ada strategi pemasaran yang matang menggunakan “juru bicara” AI.

Jika dianalisis lebih dalam, model bisnis ini sangat efisien karena tidak memerlukan biaya produksi fisik, biaya talenta manusia, atau logistik yang rumit. Cukup dengan satu akun AI dan platform penjualan digital, keuntungan besar bisa diraup. Namun, risiko terbesarnya adalah hilangnya kepercayaan publik terhadap konten-konten digital lainnya yang mungkin juga menggunakan taktik serupa. Kasus ini menjadi peringatan bagi industri kreatif digital untuk selalu memverifikasi keaslian konten sebelum mempercayainya.

Tantangan Etika dalam Era AI Generatif

Kemampuan AI dalam meniru karakter manusia dengan sempurna menimbulkan pertanyaan etika yang kompleks. Siapa yang bertanggung jawab ketika konten buatan AI menyesatkan publik? Apakah pencipta AI, pengguna, atau platform yang menyebarkannya? Dalam kasus Yang Mun, Shalev Hani sebagai pencipta karakter menolak bertanggung jawab, menunjukkan celah hukum yang masih longgar dalam pengawasan konten AI.

Selain itu, kasus ini juga menggambarkan bagaimana AI dapat memanfaatkan kerentanan psikologis manusia. Banyak orang mencari pelarian spiritual atau nasihat hidup di media sosial, dan AI dengan mudah memenuhi kebutuhan tersebut dengan konten yang dirancang untuk memicu emosi. Hal ini mendorong perlunya regulasi yang lebih ketat terkait transparansi konten buatan AI, terutama yang beredar di platform sosial dengan jangkauan luas.

Masa Depan Verifikasi Konten Digital

Ke depannya, verifikasi keaslian konten akan menjadi krusial. Teknologi deteksi AI seperti SynthID mungkin menjadi standar baru yang harus diterapkan oleh platform media sosial. Pengguna juga perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda konten buatan AI, meskipun semakin sulit dibedakan seiring perkembangan teknologi. Edukasi literasi digital harus diperluas agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam skema penipuan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Kasus biksu AI dari Israel ini menjadi pelajaran berharga bahwa tidak semua yang terlihat nyata di layar adalah nyata. Ke depan, kolaborasi antara teknologi, hukum, dan edukasi publik diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan terpercaya. Jangan sampai pencarian akan kebijaksanaan justru berujung pada ketidakpastian akibat tipu daya algoritma.

Hidup di era digital menuntut kita untuk lebih waspada dan cerdas dalam menyaring informasi. Jangan mudah terlena oleh kata-kata manis yang disajikan di layar, sebab di baliknya bisa jadi hanya algoritma yang berusaha menjual produk. Mari jadikan pengalaman ini sebagai pengingat untuk selalu memverifikasi sumber sebelum mempercayai dan berinvestasi pada sesuatu yang bersifat digital.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan