dr Tan Bicara Nutrisi Buah Kecapi yang Viral Diprotes Gegara Jadi Menu MBG

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kontroversi penyajian buah kecapi dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Gunung Sindur, Pengasinan 1, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian publik. Insiden ini mencuat ke publik setelah video yang menampilkan buah tersebut beredar di media sosial pada Senin, 19 Januari 2026. Sebagian pihak menilai bahwa buah kecapi kurang tepat disajikan untuk penerima manfaat MBG yang didominasi oleh balita, anak PAUD, TK, hingga sekolah dasar.

Menanggapi kegaduhan ini, Satuan Pelayanan Penuhi Gizi (SPPG) Pengasinan telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi. Kepala SPPG Bogor Gunung Sindur Pengasinan menyatakan permohonan maaf tersebut melalui akun Instagram @sppgdesapengasinan pada Selasa, 20 Januari 2026, ditujukan kepada seluruh penerima manfaat atas ketidaksesuaian menu yang terjadi.

Pihak SPPG menjelaskan bahwa pemilihan buah kecapi awalnya dimaksudkan sebagai upaya edukasi mengenali buah-buahan lokal bagi penerima manfaat. Meski demikian, mengingat respons negatif yang muncul dari masyarakat, mereka mengaku akan segera melakukan evaluasi terkait seleksi buah agar insiden serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Tinjauan Medis dan Gizi mengenai Buah Kecapi

Persoalan muncul karena masyarakat awam belum familiar dengan buah kecapi. Menurut dokter dan ahli gizi masyarakat, dr. Tan Shot Yen, secara kandungan gizi, buah kecapi sebenarnya aman dan layak dikonsumsi oleh anak-anak. “Bisa (untuk anak-anak), sebagai kebutuhan antioksidan dan meningkatkan imunitas seperti buah lain pada umumnya,” ujar dr. Tan pada Kamis, 22 Januari 2026.

Buah ini mengandung berbagai zat gizi esensial seperti antioksidan, vitamin C, serta mineral yang tak kalah dengan buah-buahan populer lainnya. Penolakan yang terjadi di masyarakat lebih disebabkan oleh faktor kebiasaan atau ketidakhafalan terhadap jenis buah ini. dr. Tan menilai, inilah saatnya peran ahli gizi dan pengelola program makanan untuk memberikan edukasi yang tepat, khususnya dalam memperkenalkan pangan lokal yang sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Tanpa perkenalan dan edukasi yang berkelanjutan, masyarakat akan cenderung memandang buah lokal sebagai sesuatu yang asing atau tidak cocok.

Secara ilmiah, buah kecapi (Sandoricum koetjape) memang dikenal luas di Asia Tenggara dan kerap dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Berbagai jurnal ilmiah, termasuk yang dikutip dari Pubmed, mencatat bahwa buah, daun, hingga batangnya mengandung senyawa bioaktif penting seperti flavonoid, limonoid, dan terpenoid. Senyawa-senyawa ini terbukti memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Salah satu komponen uniknya adalah koetjapic acid, sejenis triterpenoid yang dalam berbagai studi memiliki potensi sebagai antiinflamasi dan antikanker.

Meski kaya manfaat, para peneliti menegaskan bahwa biji kecapi bersifat toksik dan tidak boleh dikonsumsi. Oleh karena itu, buah kecapi aman dimakan selama diolah dan disajikan dengan benar, yakni tanpa menyertakan bagian bijinya.

Masyarakat perlu memahami bahwa keanekaragaman pangan lokal Indonesia menyimpan potensi kesehatan yang luar biasa. Edukasi mengenai cara mengonsumsi dan manfaat buah-buahan seperti kecapi harus terus digencarkan agar stigma negatif dapat hilang. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk mendukung kesehatan generasi penerus bangsa tanpa harus bergantung pada buah impor. Mari kita bersama-sama membuka wawasan tentang kekayaan alam nusantara dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan