Fakta Temuan Logam Berat Timbal pada 1 dari 7 Anak di Indonesia, Orang Tua Perlu Waspada

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan pentingnya kesadaran mengenai bahaya paparan logam berat timbal pada anak-anak. Berdasarkan hasil survei terkini, BRIN mencatat fakta mengkhawatirkan di mana satu dari tujuh anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah yang melampaui ambang batas aman. Kadar timbal yang ditemukan pada 1.617 anak dari 12 lokasi surveilans ini melampaui standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di atas 5 mikrogram per desiliter.

Data geografis menunjukkan titik panas dengan prevalensi paparan tertinggi berada di Kabupaten Bima sebesar 33 persen, disusul Kabupaten Lamongan 28 persen, dan Kota Surabaya 22 persen. Paparan ini menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang yang serius. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr dr Then Suyanti, MM, menjelaskan bahwa dampak timbal tidak langsung terlihat, melainkan menumpuk akibat paparan berulang dalam waktu lama. Efek kronisnya mencakup kerusakan sistem saraf, penurunan kecerdasan atau IQ, hingga keterlambatan tumbuh kembang anak.

Tak hanya mengganggu perkembangan kognitif, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes, menegaskan hubungan signifikan antara timbal dengan kondisi stunting dan anemia. Sumber paparan bervariasi, mulai dari debu tanah, bengkel daur ulang aki, hingga cat tembok yang mengelupas. Penelitian BRIN juga menemukan kontaminasi timbal pada mainan anak akibat penggunaan cat berbahaya, serta risiko dari alat masak dan produk kosmetik yang tidak memenuhi standar.

Untuk meminimalisir risiko ini, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci utama. Dr Wahyu menyarankan orang tua yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi, seperti pabrik cat, untuk mandi dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi dengan anak. Penggunaan alat masak stainless steel yang aman juga direkomendasikan, disertai kebiasaan membersihkan mainan secara rutin karena kecenderungan anak memasukkan benda ke mulut.

Pencegahan dini dapat dilakukan dengan langkah-langkah praktis dalam keseharian keluarga. Berikut upaya protektif yang bisa diimplementasikan:

  • Menyeka debu di rumah menggunakan kain basah secara rutin agar partikel timbal tidak beterbangan.
  • Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah penularan kuman dan zat berbahaya.
  • Mengganti pakaian kerja seketika setelah tiba di rumah untuk memutus kontaminasi lingkungan.
  • Melepas alas kaki sebelum memasuki rumah guna menghindari debu dari luar.
  • Memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makanan kaya kalsium, zat besi, dan vitamin C yang dapat menghambat penyerapan timbal.
  • Memastikan penggunaan produk konsumen sudah mengantongi izin edar resmi dari BPOM RI atau standar SNI.
  • Memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan rutin di posyandu untuk memantau tumbuh kembang anak.

Menghadapi temuan ini, keselamatan generasi muda bergantung pada kewaspadaan aktif setiap individu di rumah. Mengubah kebiasaan kecil seperti kebersihan lingkungan dan pemilihan produk aman dapat menjadi benteng kokoh melawan paparan senyawa toksik. Jangan tunggu gejala muncul untuk bertindak; mulailah melindungi buah hati dari ancaman tak kasat mata hari ini juga demi masa depan mereka yang cerah dan sehat.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan