32 Titik Banjir di Kota Tangerang, Ketinggian Air Capai 1,2 Meter

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Tangerang, Banten pada Jumat (23/1/2026) menyebabkan air meluap ke jalanan. Data terbaru mencatat terdapat 32 titik genangan air yang tersebar di wilayah hukum Polres Metro Tangerang Kota. Beberapa lokasi yang terdampak meliputi Kecamatan Benda, Ciledug, Cipondoh, Pinang, Jatiuwung, Sepatan, Pakuhaji, hingga Teluknaga. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 5 sentimeter hingga 120 sentimeter.

Kondisi paling parah terjadi di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Akibat luapan air, akses Jembatan Bendungan Polor tidak bisa dilewati kendaraan roda dua. Hingga pagi ini, ketinggian air terpantau masih sama dengan kondisi semalam, bahkan cenderung meningkat karena hujan kembali turun di kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, bencana ini tidak menelan korban jiwa, namun 160 orang dari 16 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke tempat aman yang telah disiapkan petugas.

Selain banjir, cuaca ekstrem juga memicu pohon tumbang di wilayah Pakuhaji, tepatnya di Kampung Kebon Cabe, Desa Gaga. Pohon jenis waru dengan tinggi sekitar 25 meter dan diameter batang 2 meter tersebut menimpa dua unit rumah warga. Meski menimbulkan kerusakan materil, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Pihak berwenang bersama instansi terkait telah mendirikan empat posko siaga bencana. Lokasi posko berada di Polres Metro Tangerang Kota, Kantor Damkar Kecamatan Benda, Kantor Satpol PP Kecamatan Teluknaga, serta di Kampung Alar Indah, Desa Kohod, Pakuhaji. Upaya penanganan yang dilakukan meliputi evakuasi warga terdampak, pengalihan arus lalu lintas di titik rawan, pembersihan pohon tumbang, koordinasi lintas sektor dengan Pemda, BPBD, PLN, serta stakeholder terkait, patroli dan pengamanan rumah kosong, serta pemeriksaan medis dasar oleh puskesmas setempat.


Banjir yang melanda Kota Tangerang menunjukkan betapa rentannya infrastruktur perkotaan terhadap perubahan iklim ekstrem. Fenomena curah hujan intensitas tinggi seringkali melampaui kapasitas saluran drainase yang ada, menyebabkan air meluap ke permukaan jalan dan permukiman. Data menunjukkan bahwa ketinggian air yang mencapai 120 cm bukan hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga mengancam kelestarian bangunan dan kesehatan warga akibat paparan air kotor.

Dampak domino dari bencana ini cukup signifikan. Selain menghentikan aktivitas transportasi di titik-titik kritis seperti Jembatan Bendungan Polor, genangan air juga memicu risiko kesehatan seperti leptospirosis dan penyakit kulit. Sementara itu, pohon tumbang di Pakuhaji menjadi pengingat bahwa vegetasi di perkotaan perlu mendapatkan perawatan rutin, terutama saat memasuki musim hujan. Pohon yang tidak sehat atau rapuh dapat berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga dan struktur bangunan di sekitarnya.

Respons cepat dari pihak keamanan dan dinas terkait dalam mendirikan posko bencana serta melakukan evakuasi pengungsi merupakan langkah krusial untuk meminimalisir korban. Namun, solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi masalah struktural ini. Peningkatan kapasitas drainase, revitalisasi sistem peringatan dini, dan pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih baik harus menjadi prioritas. Masyarakat juga perlu diberdayakan untuk tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat saluran air, sehingga risiko banjir dapat ditekan secara bersamaan.

Banjir di Tangerang menjadi cermin bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama. Ketika hujan turun dengan lebat, respons cepat dan koordinasi yang solid antara pemerintah, relawan, dan masyarakat dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian materiil. Mari kita bangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, mulai dari drainase di depan rumah hingga pengelolaan tata kota yang lebih berwawasan lingkungan. Dengan kesiapan yang matang, kita bisa menghadapi tantangan iklim yang semakin berat di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan