Konten Pacar Bayaran di Tasikmalaya Meresahkan, Objeknya Siswi Diberi Rp100 Ribu Plus Jajan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Konten kreator di Tasikmalaya menuai sorotan tajam setelah membuat video eksperimen sosial yang menggaet pelajar untuk menjadi pacar bayaran. Video tersebut menampilkan seorang konten kreator yang menawarkan uang Rp 100.000 kepada seorang siswi agar mau berpura-pura menjadi kekasihnya selama satu jam. Tawaran tersebut disebutkan bernilai sepuluh kali lipat dari uang jajan biasa sang pelajar, yang kemudian disetujui dan mereka terlihat jalan-jalan serta berbelanja layaknya pasangan kekasih.

Meskipun video asli telah dihapus oleh akun pembuatnya, rekaman tersebut telah tersebar luas setelah diunggah ulang oleh pengguna media sosial X. Konten ini memicu kecaman keras dari masyarakat digital karena dianggap tidak mendidik dan berpotensi melanggar hukum. Banyak warganet yang mengungkapkan kengerian dan rasa jijik, menyebut perilaku tersebut sebagai “pedofil mode” yang mengeksploitasi anak di bawah umur. Kekhawatiran publik semakin memuncak karena target dalam video tersebut adalah anak-anak sekolah, yang dinilai rentan terhadap pengaruh negatif.

Reaksi keras datang dari berbagai akun media sosial, mulai dari yang menyebut konten itu menakutkan hingga yang meminta agar konten tersebut dilaporkan. Beberapa komentar menyoroti ketidakwajaran ajakan berpacaran kepada anak-anak, bahkan dengan dalih eksperimen sosial. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah video tersebut murni eksperimen atau sekadar settingan belaka, namun publik sepakat bahwa konten semacam ini tidak boleh dinormalisasi.

Analisis dan Data Tambahan

Fenomena konten provokatif demi viral seringkali mengabaikan etika demi mengejar popularitas. Menurut data riset terbaru tentang perilaku pengguna media sosial di Indonesia, konten yang melibatkan anak di bawah umur dalam skenario dewasa memiliki risiko psikologis yang tinggi bagi subjek maupun penonton. Studi kasus serupa pernah terjadi di berbagai daerah di mana kreator konten nekat melakukan hal ekstrem untuk mendapatkan atensi, yang berujung pada sanksi sosial dan hukum. Infografis yang menggambarkan batasan etika konten kreatif menjadi penting untuk mengedukasi publik, khususnya orang tua, agar lebih waspada terhadap paparan konten negatif bagi anak-anak.

Dunia kreatif menuntut inovasi, namun tidak dengan cara mengorbankan moral dan keamanan generasi muda. Setiap konten yang dibuat harus menjadi pertimbangan matang tentang dampak jangka panjangnya bagi masyarakat. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan digital yang sehat dengan bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi, sehingga ruang digital tidak menjadi ladang eksploitasi bagi anak-anak.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan