Kakorlantas Beri Apresiasi Tinggi Sopir Truk yang Viral Mengawal Panther ‘Jalan Sendiri’ di Tol.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Aksi seorang sopir truk di ruas Tol Jakarta-Cikampek (Japek) Km 21 pada Rabu, 21 Januari 2026, sekitar pukul 07.20 WIB, menuai sorotan dan pujian luas di media sosial. Sopir truk tersebut menunjukkan kesabaran luar biasa dengan mengiringi laju mobil Isuzu Panther berwarna silver yang melaju tidak stabil. Mobil tersebut akhirnya berhenti di area U-turn setelah tersangkut traffic cone, namun situasi tersebut berpotensi memicu kecelakaan beruntun.

Pengemudi mobil Panther berinisial FP ditemukan meninggal dunia diduga akibat serangan jantung saat mengemudi. Melihat kondisi darurat tersebut, sopir truk tidak tinggal diam. Ia memilih untuk mendampingi mobil yang hampir hilang kendali itu dari belakang dengan kecepatan rendah, memastikan mobil tersebut berhenti dengan selamat sebelum menabrak pembatas jalan atau kendaraan lain di sekitarnya.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Agus Suryonugroho, memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap inisiatif sopir truk tersebut. Menurutnya, tindakan itu adalah wujud nyata kepedulian sesama pengguna jalan. “Situasi di jalan tol sangat berisiko, namun beliau memilih tidak cuek. Tindakan mengawal mobil secara perlahan itu berhasil mencegah tabrakan beruntun yang jauh lebih fatal,” ujar Irjen Agus pada Kamis, 22 Januari 2026.

Kakorlantas menyebut tindakan ini sebagai cerminan semangat ‘pahlawan keselamatan’. Dukacita mendalam juga disampaikan kepada keluarga almarhum FP. Saat ini, pihak kepolisian sedang berusaha mengidentifikasi sopir truk tersebut untuk diberikan penghargaan resmi sebagai teladan bagi pengemudi lainnya. Irjen Agus mengimbau masyarakat untuk mencontoh aksi ini, namun tetap mengutamakan keselamatan diri. Jika melihat kendaraan darurat, berikan ruang dan pengawalan jarak aman, atau segera hubungi call center tol dan petugas PJR terdekat.

Data Riset Terbaru:
Tren kecelakaan di jalan tol Indonesia seringkali disebabkan oleh faktor manusia, termasuk respons lambat terhadap kendaraan yang bermasalah di depan. Berdasarkan data Korlantas Polri, insiden tabrakan beruntun sering terjadi karena pengemudi di belakang tidak sigap saat mobil di depan tiba-tiba melambat atau oleng. Aksi seperti yang dilakukan sopir truk ini mematahkan stigma bahwa pengemudi truk sering dianggap kurang tertib. Studi kasus tentang “defensive driving” menunjukkan bahwa intervensi preventif dari pengendara di belakang dapat mengurangi risiko fatalitas hingga 70% dalam situasi kritis, meskipun alat bantu seperti hazard lamp seringkali tidak cukup untuk memberi peringatan dini kepada pengendara lain di kecepatan tinggi.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Bayangkan Anda berada di jalan tol dengan kecepatan 80 km/jam, lalu tiba-tiba ada mobil di depan yang bergerak zig-zag tanpa alasan jelas. Insting pertama mungkin adalah menyalip atau mengerem mendadak—keduanya berisiko tinggi. Pendekatan sopir truk ini mengajarkan kita tentang “pengawalan pasif”. Alih-alih menyalip atau membunyikan klakson yang bisa membuat pengemudi panik, ia memilih untuk “melindungi” mobil tersebut dari belakang seperti tameng bergerak. Ini adalah contoh sederhana dari safety driving yang sering diabaikan: kehadiran kendaraan besar di belakang memberikan rasa aman visual bagi pengemudi di depan (meskipun dalam kasus ini pengemudinya sudah tidak sadar) dan memblokir kendaraan lain dari area berbahaya. Ini bukan hanya soal keberanian, tapi soal teknik mengemudi yang cerdas dan empati.

Keselamatan di jalan raya bukan hanya tanggung jawab petugas, melainkan milik kita semua. Jangan pernah meremehkan kendaraan lain yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan. Sekecil apapun tindakan kita, seperti menjaga jarak aman atau memberi isyarat, bisa menjadi penyelamat nyawa. Mari menjadi pengendara yang tidak hanya pintar, tapi juga peduli.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan