Kemenag Kota Banjar Ajak Pemuda Jaga Kerukunan Antar Umat Beragama

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjar melalui ajakan resmi meminta seluruh elemen pemuda untuk turut aktif dalam menjaga serta meningkatkan keharmonisan hubungan antar umat beragama, termasuk di dalamnya menjaga kerukunan internal umat beragama itu sendiri. Kepala Kankemenag Kota Banjar, H Ahmad Fikri Firdaus, menegaskan betapa sentralnya peran generasi muda sebagai penerus bangsa dalam mempertahankan kondusivitas sosial yang toleran ini.

Dalam keterangannya pada Rabu (21/1/2026) usai kegiatan Halakoh Pemuda, Fikri menyoroti tugas Kemenag yang tidak berfokus pada satu agama saja, melainkan mencakup seluruh agama yang diakui di Indonesia, khususnya di wilayah Kota Banjar. Pihaknya menegaskan bahwa meskipun terdapat berbagai persepsi di masyarakat, tugas pokok mereka tetap pada peningkatan kerukunan dan kecintaan, bukan hanya antar agama namun juga intra agama.

Lebih lanjut, komitmen ini diwujudkan dalam pelayanan dan penghormatan terhadap seluruh perayaan keagamaan yang ada, mulai dari perayaan Imlek hingga ritual keagamaan lainnya. Ekspektasi yang diletakkan pada pundak pemuda adalah kemampuan mereka dalam menyaring dan menyampaikan informasi yang akurat kepada warga sekitar, guna mencegah timbulnya anggapan atau persepsi negatif di tengah masyarakat.

Terkait dengan teknis pelaksanaan, Fikri menyatakan kesiapan pihaknya untuk merespons kebijakan pusat, termasuk terkait pemasangan lampu lampion jika memang ada surat edaran resmi yang mengatur hal tersebut. Di sisi lain, Muhlison selaku Pembina Posnu Kota Banjar turut angkat bicara dan merasa terpanggil untuk bersinergi dalam menjaga kerukunan, baik di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.

Muhlison menambahkan bahwa dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama maupun intra beragama, kunci utamanya adalah saling memahami perbedaan. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat semua pihak berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang majemuk.

Analisis dan Konteks Terkini

Pemuda seringkali disebut sebagai “Agent of Change” atau agen perubahan, namun dalam konteks kerukunan beragama, mereka juga berperan sebagai “Agent of Harmony”. Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan lagi pada fisik, melainkan pada hoaks dan ujaran kebencian yang mudah menyebar melalui media sosial. Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa kelompok usia muda adalah pengguna aktif media sosial, yang menjadikan posisi mereka krusial dalam menyaring informasi sebelum diteruskan kepada lingkungan sekitar.

Studi kasus menarik dapat dilihat dari implementasi moderasi beragama di berbagai daerah. Misalnya, di beberapa kota besar, program “Duta Kerukunan” yang melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang agama berhasil menurunkan angka konflik sosial. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi melakukan dialog interaktif dan kegiatan sosial bersama. Infografis sederhana yang menggambarkan piramida toleransi menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang perbedaan di tingkat akar rumput lebih efektif daripada sekadar kebijakan top-down.

Kemenag sendiri terus bertransformasi dengan memperkuat literasi digital bagi pemuda. Hal ini penting agar mereka tidak mudah terpancing oleh isu-isu SARA yang seringkali dimanipulasi untuk kepentingan politik tertentu. Sinergi antara pemerintah, ormas keagamaan, dan komunitas pemuda menjadi vaksin sosial yang ampuh untuk meminimalisir gesekan.

Menghadapi perbedaan bukan berarti kita harus setuju pada semua hal, melainkan belajar untuk menghormati pilihan hidup orang lain dalam koridor hukum dan nilai-nilai luhur bangsa. Jadilah pemuda yang cerdas dalam menyaring informasi, bijak dalam bertutur, dan berani dalam menjaga perdamaian. Mulailah dari lingkungan terkecil, karena kerukunan yang nyata dimulai dari senyum dan saling menghargai tetangga sebelah rumah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan