Kredit Nganggur Bank Masih Besar Menurut BI, Nilai Rp 2.439 T

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kredit nganggur yang belum disalurkan perbankan atau yang dikenal sebagai undisbursed loan tercatat membengkak hingga Rp 2.439,2 triliun per Desember 2025. Angka ini meskipun mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya, tetap dinilai cukup besar oleh Bank Indonesia (BI).

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan perlunya dorongan lebih intensif kepada pelaku usaha agar memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum terserap tersebut untuk ekspansi bisnis. “Dari sisi permintaan, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp 2.439,2 triliun,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).

Perry merinci bahwa porsi undisbursed loan tersebut setara dengan 22,12% dari total plafon kredit yang tersedia. Angka ini mengindikasikan bahwa permintaan pelaku usaha terhadap pembiayaan atau kredit belum mencapai tingkat maksimal. Sementara itu, dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank masih tergolong memadai. Hal ini ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan pertumbuhan DPK yang cukup tinggi, yakni 13,83% (year on year) pada Desember 2025.

Meskipun terdapat sisa kredit yang belum terserap, minat penyaluran kredit perbankan diklaim terus membaik. Hal ini terlihat dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, meskipun pengecualian berlaku pada segmen kredit konsumsi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMMK) karena risiko kredit pada kedua segmen tersebut masih tergolong tinggi.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan berada dalam kisaran 8% hingga 12%. Di tahun 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 9,69% (year on year). Ke depan, BI berkomitmen memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong percepatan pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan.

Data Riset Terbaru:
Analisis terkini terhadap pasar keuangan Indonesia menunjukkan adanya paradoks likuiditas. Di satu sisi, dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan signifikan, mencapai 13,83% (yoy) pada Desember 2025, yang mengindikasikan tingginya minat menabung masyarakat. Namun di sisi lain, undisbursed loan senilai Rp 2,4 triliun menunjukkan hambatan di sisi permintaan kredit. Studi kasus pada sektor UMKM menemukan bahwa meskipun suku bunga acuan telah diarahkan turun, risk premium yang diterapkan perbankan masih tinggi, terutama akibat ketidakpastian daya beli konsumen. Ini menciptakan gap likuiditas yang perlu dijembatani melalui kebijakan makroprudensial yang lebih akomodatif.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Bayangkan sebuah danau yang luas (likuiditas perbankan) namun saluran irigasinya (saluran kredit) tersumbat. Kondisi undisbursed loan Rp 2,4 triliun adalah cerminan dari “danau penuh” yang airnya belum mengalir ke sawah petani (pelaku usaha). Penyederhanaan aturan kredit adalah upaya membersihkan saluran irigasi tersebut. Namun, untuk air benar-benar mengalir, petani harus yakin hasil panennya laku (kepastian bisnis). Oleh karena itu, stimulus kredit saja tidak cukup; diperlukan penguatan ekosistem digital dan jaminan pasar agar pelaku usaha berani mengambil kredit tersebut untuk ekspansi.

Pertumbuhan kredit yang diproyeksikan 8-12% di tahun 2026 adalah sinyal optimis bahwa ekonomi sedang bergerak. Jangan biarkan potensi Rp 2,4 triliun itu teronggok begitu saja; inovasi dan keberanian mengambil peluang adalah kunci mengubah angka statis menjadi dinamis. Saatnya transformasi sektor riil terjadi dengan memanfaatkan setiap celah pembiayaan yang tersedia.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan