Respons PERSAGI terkait MBG Tetap Berjalan saat Puasa dengan Menu Tahan 12 Jam

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Persatuan Ahli Gizi Indonesia menilai pelaksanaan program makan bergizi gratis selama bulan Ramadan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti jenis menu. PERSAGI menegaskan bahwa hal yang jauh lebih krusial adalah merancang strategi distribusi serta sistem pelayanan yang menyesuaikan dengan waktu berbuka puasa. Doddy Izwardy, selaku Ketua Umum DPP PERSAGI, menyoroti perlunya pembahasan mendalam terkait hal ini sebelum kebijakan diluncurkan.

Doddy menekankan bahwa pemerintah tidak bisa gegabah memutuskan menu tanpa melihat kondisi riil di lapangan. Identifikasi menyeluruh harus menjadi langkah awal, melibatkan sekolah dan dunia pendidikan, mengingat perbedaan kondisi antara siswa yang berpuasa dan yang tidak. Menurutnya, untuk siswa non-Muslim program bisa berjalan normal, tetapi skema khusus diperlukan bagi siswa Muslim terkait waktu makan dan distribusi.

Mengganti nasi dengan roti atau bahan tahan lama lainnya bukanlah solusi instan. Doddy mengingatkan bahwa perubahan bahan pangan seringkali menuai kritik terkait status makanan olahan. Meskipun ahli gizi mampu memilah bahan pangan tahan lama, persoalan utama justru terletak pada sistem produksi dan distribusi, bukan pada menu itu sendiri. Jadi, menu tidak bisa menjadi solusi utama.

Sebagai ilustrasi, Doddy membandingkan dengan sistem penyediaan makanan di rumah sakit yang diatur ketat berdasarkan jam bagi pasien berpuasa. Pendekatan serupa dinilai perlu diterapkan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam program MBG. Jika buka puasa jam 6 sore, maka proses masak harus menyesuaikan, namun tantangan distribusi tetap menjadi pertanyaan besar karena berimplikasi pada biaya tambahan dan perubahan sistem kerja.

Selama ini, sistem MBG dirancang untuk makan pagi atau siang, sedangkan di Ramadan waktu utama berpindah ke sore atau malam hari. Hal ini menuntut perubahan jam kerja dan pola operasional. Doddy menegaskan bahwa kunci keberhasilan adaptasi MBG selama Ramadan terletak pada strategi operasional yang matang, bukan sekadar modifikasi menu makanan semata. Fokus harus pada perencanaan taktis yang menyeluruh.

Analisis dan Data Tambahan

Penerapan program makan bergizi gratis di bulan Ramadan memang menyimpan tantangan unik dibanding bulan biasa. Data menunjukkan bahwa kebutuhan kalori dan nutrisi saat sahur dan berbuka berbeda dengan kebutuhan makan siang reguler. Studi terbaru mengenai pola konsumsi makanan selama puasa menyarankan asupan yang kaya serat dan protein kompleks untuk menjaga stamina, yang mungkin berbeda dengan menu standar MBG pada umumnya.

Implementasi distribusi yang efektif memerlukan logistik khusus. Misalnya, pengemasan makanan harus mempertimbangkan suhu dan keawetan agar tetap layak konsumsi saat waktu berbuka tiba. Infografis yang menggambarkan perbedaan siklus logistik MBG antara hari biasa dan Ramadan bisa menjadi alat bantu visualisasi yang baik bagi pemangku keputusan untuk memahami urgensi perubahan sistem ini.

Konteks sosial juga perlu diperhatikan. Beberapa daerah di Indonesia memiliki waktu berbuka yang berbeda-beda, bahkan berjarak signifikan. Ini menuntut fleksibilitas tinggi dalam penjadwalan. Pendekatan yang lebih personal dan partisipatif melibatkan komunitas lokal akan lebih efektif daripada kebijakan sentralistik yang kaku. Inovasi dalam teknologi rantai pasokan makanan segar bisa menjadi solusi untuk menjaga kualitas nutrisi selama transit.

Transformasi sistem MBG selama Ramadan bukan hanya soal logistik, tetapi juga tentang responsif terhadap kebutuhan biologis dan spiritual masyarakat. Dengan merancang strategi yang adaptif, program ini berpotensi meningkatkan efektivitasnya secara signifikan. Mari kita dorong inovasi dalam layanan publik agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat, menciptakan generasi yang lebih sehat dan berdaya saing tinggi.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan