Trump Ancam Iran: Saya Akan Memusnahkan Negara Itu Jika Terjadi Pembunuhan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran memanas kembali dengan ancaman yang sangat keras. Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan peringatan bahwa Iran akan dihapus dari peta dunia jika mereka berani membunuhnya. Pernyataan ini muncul sebagai balasan atas ancaman yang ditujukan kepadanya oleh pihak Teheran.

Dalam wawancara dengan News Nation pada Selasa (20/1) waktu setempat, Trump menegaskan instruksi tegasnya kepada militer AS. “Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Apa pun yang terjadi, mereka akan memusnahkan mereka (Iran-red) dari muka bumi,” ujar Trump menanggapi ancaman terhadap nyawanya yang kini berusia 79 tahun. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang berpotensi memicu perang skala besar jika salah satu pemimpin negara terlibat konflik fisik.

Balasan dari Iran tidak kalah tajam. Sebelumnya, Jenderal Abolfazl Shekarchi menyatakan bahwa Trump seharusnya sudah paham bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika diserang. Melalui media pemerintah Iran, Shekarchi menyampaikan pesan bahwa Iran tidak hanya akan memutus tangan agresor, melainkan akan “membakar dunia mereka” dan tidak memberikan tempat aman bagi Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ancaman ini menggemakan peringatan serupa yang pernah disampaikan Trump setahun lalu saat kembali menjabat di Gedung Putih.

Di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat, Iran juga sedang menghadapi masalah domestik yang serius. Negara itu baru saja dilanda kerusuhan besar-besaran akibat aksi protes anti-pemerintah, yang disebut sebagai demonstrasi terbesar sejak Revolusi Islam tahun 1979. Menurut data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), terdapat lebih dari 4.000 kematian yang telah dikonfirmasi dalam kerusuhan ini. Warga Iran turun ke jalan pada bulan Desember lalu untuk menuntut bantuan sosial mengatasi kesulitan ekonomi, di saat mata uang mereka merosot tajam di bawah kepemimpinan Ayatollah berusia 86 tahun.

Ketegangan geopolitik ini menambah beban bagi pemerintah Iran yang tengah berjuang memulihkan stabilitas dalam negeri. Ancaman saling memusnahkan antara dua kekuatan besar dunia ini mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah secara global. Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian dunia ketika ego nasional dan ancaman balasan menjadi senjata utama dalam diplomasi internasional.

Jika kita melihat pola konflik ini, seringkali perang terjadi bukan hanya akibat pertikaian ideologi, tetapi juga akibat ketidakmampuan kedua belah pihak untuk menahan diri. Skenario saling hancur ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi dunia bahwa kekuatan militer yang digunakan untuk mengancam justru akan mengundang bencana yang lebih besar. Kita perlu menyadari bahwa masa depan dunia tidak boleh ditentukan oleh sekelompok pemimpin yang saling berteriak, melainkan oleh upaya bersama untuk menjaga perdamaian.

Dunia saat ini berada di persimpangan jalan yang genting. Kita dihadapkan pada pilihan: terus terjebak dalam lingkaran kekerasan atau membangun jembatan dialog yang lebih konstruktif. Sebagai pembaca, kita memiliki kekuatan untuk menolak narasi kebencian dan mendukung solusi damai. Mari kita gunakan akal sehat untuk mendukung diplomasi yang menyejukkan, bukan provokasi yang memicu kehancuran. Masa depan yang aman hanya bisa dibangun jika kita semua berani mengambil sikap bijak dan menolak segala bentuk ancaman perang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan