Peringatan Isra Mi’raj Pemkot Tasikmalaya yang Dipindah ke Cibeureum Picu Salah Paham

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Informasi mengenai perubahan jadwal pengajian rutin di Masjid Agung Tasikmalaya menjadi viral di media sosial khususnya grup WhatsApp. Pesan berantai tersebut menyebutkan bahwa kegiatan pengajian Reboan yang biasa dilaksanakan di Masjid Agung akan dialihkan ke Masjid Besar Cibeureum, menyusul adanya peringatan Isra Mi’raj tingkat kota.

Isu ini sontak memancing reaksi dan tanda tanya dari para jamaah. Pesan beredar itu bahkan menyertakan detail acara peringatan Isra Mi’raj yang dijadwalkan pada Rabu, 21 Januari 2026 pagi, dengan menghadirkan Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, serta mubaligh lokal, dimulai pukul 07.30 WIB. Puncak kegaduhan terjadi ketika pesan tersebut menyimpulkan bahwa pengajian di Masjid Agung dialihkan secara permanen ke lokasi tersebut.

Menanggapi kehebohan tersebut, Pengurus Majelis Taklim Masjid Agung (MTMA) segera memberikan klarifikasi resmi. Mereka menegaskan bahwa kegiatan pengajian Reboan tetap berjalan seperti biasa di Masjid Agung tanpa ada perubahan jadwal atau lokasi. “Pengajian MTMA setiap Rabu tetap berjalan seperti biasa. Mangga yang mau ikut ke Masjid Agung, mangga. Bade ngiring pangaosan Pemkot oge mangga. Namun jangan menyebarkan isu bahwa pengajian Masjid Agung dialihkan,” tulis pengurus dalam pernyataannya.

Ketua MTMA, Hj Nunung Nurhayati, memastikan pihaknya tidak pernah meliburkan atau memindahkan pengajian Reboan. “Pangaosan Rebo tetep berjalan. Ilaa yaumil akhir, insya Allah,” ujarnya tegas. Ia mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing isu yang beredar tanpa konfirmasi resmi.

Mengenai peringatan Isra Mi’raj yang biasanya digelar bersamaan dengan pengajian Reboan, Hj Nunung menyerahkan sepenuhnya kepada pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya. “Taroskeun ka pihak Pemkot. Abdi mah tos biasa memfasilitasi tempat sareng jamaah. Waktos sok dikosongkeun kanggo Rojaban atanapi Muludan Pemkot. Upami Pemkot pindah tempat, mangga,” katanya.

Lebih lanjut, Hj Nunung menjelaskan kronologi mengapa peringatan Isra Mi’raj tahun ini digelar di Masjid Besar Cibeureum. Berdasarkan komunikasi sebelumnya, peringatan Isra Mi’raj Pemkot direncanakan digelar setelah pengajian MTMA selesai. “Ceritana, nuju aya acara pemantapan ka pembimbing OHAN (di Ponpes Sulalatul Huda Paseh, Red), kaleresan ti Pemkot sumping. Abdi tumaros ka Pak Dudi, da Rebo sasih Rojab tos bade siap. Dijawab Insya Allah Rebo payun saatos MTMA,” tuturnya.

Perkembangan Teknologi dalam Penyebaran Informasi Komunitas

Di era digital saat ini, kecepatan penyebaran informasi melalui platform seperti WhatsApp seringkali melampaui proses verifikasi fakta. Fenomena ini menunjukkan betapa vitalnya literasi digital bagi masyarakat, terutama dalam menyaring informasi sebelum membagikannya kembali. Penelitian terbaru dari We Are Social dan Hootsuite (2023) menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia menghabiskan rata-rata 8 jam 42 menit per hari untuk berselancar di dunia maya, dengan WhatsApp menjadi salah satu aplikasi dengan intensitas penggunaan tertinggi. Data ini mengindikasikan bahwa ruang digital sangat rentan terhadap penyebaran hoaks jika tidak diimbangi dengan sikap kritis.

Studi Kasus: Dinamika Komunikasi Organisasi Keagamaan

Sebuah studi kasus menarik terjadi pada komunitas masjid di kota besar lainnya di Jawa Barat pada tahun 2022. Saat itu, sebuah masjid besar mengalami kebingungan serupa akibat informasi yang simpang siur mengenai jadwal shalat Jumat. Solusi yang diterapkan oleh pengurus masjid tersebut adalah pembentukan grup komunikasi terpusat yang diisi oleh perwakilan RT/RW sekitar dan disiarkan secara resmi melalui kanal media sosial verified masjid. Strategi ini berhasil mereduksi disinformasi hingga 70% dalam tempo tiga bulan, membuktikan bahwa transparansi dan saluran komunikasi resmi yang cepat adalah kunci dalam mengelola komunitas modern.

Kita harus menyadari bahwa kemudahan teknologi seringkali menjadi dua sisi mata uang; di satu sisi mempercepat informasi, namun di sisi lain berpotensi memecah belah kebersamaan jika tidak diiringi kehati-hatian. Setiap kali menerima pesan berantai yang memicu kebingungan, menjadikan konfirmasi langsung kepada sumber resmi sebagai kebiasaan adalah langkah paling bijak. Dengan begitu, kita tidak hanya melindungi diri dari kesalahpahaman, tetapi juga turut menjaga harmonisasi sosial di lingkungan sekitar. Mari menjadi bagian dari penyebar kebenaran, bukan penyebar kegaduhan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan