Sesal BGN Masih Ada Kasus Keracunan MBG, Ungkap Penyebabnya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Badan Gizi Nasional (BGN) menyayangkan masih adanya laporan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski tren insiden ini terus menurun sejak akhir 2025, kenyataan bahwa kasus masih terjadi di awal tahun dianggap sebagai kemunduran. Sepanjang Januari 2026, BGN terpaksa menghentikan operasional 10 Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti menjadi akar masalahnya.

Tindakan penghentian operasional ini merupakan sanksi tegas sekaligus peringatan keras bagi seluruh mitra pelaksana. Mereka diwajibkan mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan tanpa kompromi. Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengaku kecewa berat karena insiden ini masih muncul. Ekspektasi mereka di tahun 2026 adalah nol kasus, namun realita berkata lain.

“Memang kita sesalkan ya, masih ada kejadian, kan sebetulnya trennya sudah menurun ya. Sampai di akhir Desember itu sisa 12 dan kami berharap sebetulnya awal Januari itu sudah tidak ada kejadian, tapi ternyata masih ada kejadian dan itu sesuatu yang sangat disesalkan,” kata Dadan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (20/1/2026).

Dadan menjelaskan bahwa penyebab utama kejadian ini adalah ketidakpatuhan SPPG terhadap SOP yang berlaku. Dalam beberapa kasus, masalah juga berasal dari kualitas bahan baku yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. “Kejadiannya utamanya karena SPPG tidak menepati, tidak mematuhi SOP secara benar dan terutama yang di Mojokerto itu karena kualitas bahan baku, dan saya kira itu karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai dengan SOP yang ditetapkan,” jelasnya.

BGN memastikan setiap SPPG yang terlibat dalam kasus keracunan akan langsung dihentikan operasionalnya. Jika ditemukan pelanggaran fatal, masa penghentian bisa diperpanjang dan insentif dibekukan hingga perbaikan total dilakukan. “Untuk seluruh SPPG yang mengalami kejadian, stop operasi dan bahkan kalau kita menemukan ada pelanggaran yang fatal, kita stop agak lama dan juga tidak kita berikan insentif sampai dia memperbaiki diri,” tegas Dadan.

Berdasarkan data resmi, tren kasus keracunan MBG sebenarnya sudah menunjukkan grafik penurunan yang signifikan. Pada awal pelaksanaan program di Januari 2025, tercatat hanya ada 4 Kejadian Luar Biasa (KLB). Angka ini kemudian melonjak drastis dan menyentuh puncaknya pada Oktober 2025 dengan 85 KLB. Setelah puncak tersebut, jumlah kejadian mulai menurun menjadi 40 KLB pada November 2025, dan kembali turun drastis menjadi 12 KLB di Desember 2025.

BGN menargetkan nol kasus keracunan MBG sepanjang 2026. Namun, target ini belum sepenuhnya terwujud. Dalam dua pekan pertama sejak 8 Januari 2026, sudah tercatat 10 KLB keracunan pangan. “Di Januari sudah terdapat 10 kejadian, meskipun kami targetkan 0 kejadian, tapi masih saja ada pelanggaran SOP yang terjadi,” pungkas Dadan.

Peningkatan kewaspadaan mutlak diperlukan mengingat program ini menyasar kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. Setiap kegagalan distribusi makanan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Pemahaman mendalam tentang SOP dan pengawasan bahan baku harus menjadi prioritas utama seluruh pihak terkait. Jangan biarkan kesalahan teknis mengorbankan masa depan generasi penerus bangsa. Mari kita jaga kualitas makanan dengan standar yang lebih ketat demi kesehatan bersama.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan