Canangkan Satu Desa Satu Hektare Sawah, Pertanian Organik Ciamis Mulai Digencarkan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemerintah Kabupaten Ciamis secara resmi memulai eksekusi program pertanian organik pada tahun 2026. Rencana ini menetapkan target spesifik di mana setiap desa diharapkan mampu mengelola lahan seluas satu hektare dengan metode organik. Program ini merupakan kelanjutan logis dari kegiatan pelatihan Sekolah Lapangan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2025.

Desa Cisadap di Kecamatan Ciamis ditetapkan sebagai area percontohan utama. Di lokasi ini, petani telah berhasil melakukan pemanenan padi yang dibudidayakan melalui proses organik murni. Hasil panen ini menjadi bukti awal yang menguatkan keberhasilan implementasi teknologi pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Priyadi, menyoroti hasil positif dari pelatihan yang telah dilakukan. Ia menyatakan bahwa memasuki awal tahun 2026, padi organik telah siap dipanen dengan tingkat produktivitas yang jauh melebihi metode konvensional. “Saat ini sudah panen dari pelaksanaan pertanian sehat di Desa Cisadap, dengan hasil rata-rata sekitar lebih dari 7 ton gabah kering panen per hektare. Tentunya hasil ini lebih banyak 2,3 ton per hektare, dari proses penanaman biasa bisa menghasilkan 4,5 ton per hektare saja,” jelasnya pada acara panen padi di Desa Cisadap, Selasa (20/1/2026).

Capaian produktivitas lebih dari 7 ton per hektare ini harus menjadi fondasi yang kokoh untuk kedepannya. Andang menegaskan pentingnya mempertahankan dan terus meningkatkan angka tersebut, mengingat potensi maksimal pertanian organik bisa mencapai 12 ton per hektare. “Hasilnya sekitar lebih dari 7 ton per Hekate, pertahankan dan tingkatkan. Karena yang lain bisa mencapai 12 ton,” ujarnya.

Melihat peluang tersebut, pemerintah optimis bahwa produktivitas pertanian organik masih dapat dioptimalkan lebih jauh. Tantangan ke depan adalah bagaimana mencapai hasil hingga 15 ton per hektare. Jika terdapat kendala teknis seperti saluran irigasi, pemerintah berjanji akan segera menanganinya demi menunjang hasil maksimal.

Program penerapan satu desa satu hektare pertanian organik ini tidak terbatas di Desa Cisadap saja. Beberapa desa lain juga telah bergabung dalam inisiatif ini, termasuk Desa Sirnabaya, Desa Cihaurbeuti, dan Desa Bangunsari. Target Bupati Ciamis adalah agar program ini berjalan efektif sepanjang tahun 2026 dengan skema satu hektare per desa. Selain itu, area Kelurahan Cigembor dan Desa Banjaranyar juga telah menyatakan kesiapannya untuk mengikuti pelatihan serupa.

Untuk mendukung transparansi dan efisiensi, Pemerintah Kabupaten Ciamis memperkenalkan penggunaan Learning Management System (LMS) pertanian ramah lingkungan. Sistem digital ini memungkinkan petani untuk mencatat seluruh siklus pertanian organik secara terstruktur dan terpantau.

Pertanian organik di Ciamis membuka babak baru bagi ketahanan pangan lokal dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Lonjakan produktivitas dari 4,5 ton menjadi 7 ton lebih per hektare membuktikan bahwa metode alami mampu bersaing secara ekonomi sekaligus menjaga kesuburan tanah jangka panjang. Kunci keberhasilan terletak pada komitmen konsisten petani dan dukungan infrastruktur dari pemerintah. Dengan teknologi LMS yang terintegrasi, setiap data pertanian dapat dioptimalkan untuk mencapai target 15 ton di masa depan. Ini adalah waktunya beralih ke pertanian yang lebih cerdas, lestari, dan menguntungkan. Mari kita bersama-sama membangun pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan