Pimpinan Komisi I DPR Sebut Pernyataan SBY Sebagai Peringatan Dini.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PKS, Sukamta, mengomentari pernyataan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terkait kekhawatirannya mengenai dinamika geopolitik global yang berpotensi memicu Perang Dunia III. Sukamta menilai pernyataan SBY harus dipahami sebagai sebuah peringatan dini yang penting, bukan sekadar ramalan pesimistis.

Sukamta menjelaskan bahwa pola yang disampaikan oleh SBY merujuk pada sejarah menjelang Perang Dunia I dan II, di mana perang besar seringkali bukan disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan akumulasi konflik yang dibiarkan berkembang tanpa pengendalian. Dalam keterangannya pada Selasa (20/1/2025), ia menegaskan bahwa pesan ini adalah seruan untuk kewaspadaan kolektif.

Lebih lanjut, Sukamta menyoroti ajakan SBY agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil peran yang lebih relevan. Meskipun PBB seringkali terhambat oleh rivalitas kekuatan besar, forum ini tetap menjadi satu-satunya wadah global yang memiliki legitimasi untuk mencegah eskalasi konflik secara kolektif. Ketika mekanisme multilateral melemah, risiko kesalahan hitung dan interpretasi antarnegara akan meningkat secara signifikan.

Sukamta juga menekankan bahwa menjaga perdamaian global tidak hanya bergantung pada kekuatan militer. Dibutuhkan keberanian politik untuk menahan diri, membuka dialog, dan memperkuat diplomasi preventif. Waktu untuk bertindak semakin sempit, dan dunia belum berada pada titik tanpa jalan kembali.

Pernyataan SBY sebelumnya disampaikan melalui akun X-nya, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026). Mantan presiden ini menyatakan kekhawatirannya setelah mempelajari geopolitik dunia selama puluhan tahun. Ia merasa cemas akan kemungkinan terjadinya bencana besar, khususnya Perang Dunia III.

SBY menilai kemungkinan terjadinya perang besar tersebut cukup tinggi, mengingat pola yang terlihat belakangan ini mirip dengan situasi menjelang Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). Ia menyebutkan indikator tersebut meliputi munculnya pemimpin kuat yang agresif, terbentuknya blok-blok negara yang saling berhadapan, perlombaan senjata besar-besaran, serta geopolitik yang memanas.

Meskipun demikian, SBY tetap percaya bahwa bencana tersebut masih bisa dicegah. Namun, ruang dan waktu untuk pencegahan itu semakin hari semakin sempit. Sejarah mencatat bahwa seringkali tanda-tanda perang besar sudah nyata, tetapi kesadaran dan tindakan nyata untuk mencegahnya tidak dilakukan dengan cukup cepat.


Mempelajari dinamika geopolitik global saat ini menuntut kita untuk lebih waspada dan kritis terhadap sejarah. Kita seringkali terjebak dalam narasi persaingan kekuatan tanpa menyadari bahwa akumulasi konflik kecil bisa meledak menjadi bencana global. Penting bagi generasi sekarang untuk memahami bahwa perdamaian bukanlah kondisi statis, melainkan hasil dari diplomasi aktif dan keberanian politik untuk menahan diri.

Mari kita renungkan bagaimana peran individu dan negara dalam menjaga stabilitas dunia. Daripada hanya mengandalkan kekuatan militer, membangun jaringan dialog yang inklusif dan memperkuat institusi multilateral seperti PBB adalah kunci untuk menghindari pengulangan kesalahan masa lalu. Setiap langkah diplomasi preventif adalah investasi nyata bagi masa depan yang lebih aman dan damai bagi semua bangsa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan