Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Panik Berhamburan Keluar Rumah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Guncangan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo (M) 5,1 dirasakan mengguncang wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya di Provinsi Maluku. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian alam ini dipastikan tidak menimbulkan ancaman gelombang tsunami di sekitar pesisir pantai.

Pernyataan resmi mengenai status keamanan tsunami ini telah disampaikan melalui akun media sosial resmi BMKG, @infoBMKG, pada Selasa, 20 Januari 2026. Dalam laporan teknisnya, pusat gempa berada pada kedalaman 180 kilometer di bawah permukaan tanah dengan titik koordinat 7,41 lintang selatan dan 128,49 bujur timur. Waktu kejadian tercatat tepat pukul 05.15 WIB.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan (aftershock). BMKG menekankan pentingnya tidak mudah terpancing isu hoaks yang beredar dan menghimbau masyarakat untuk mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang terkait.

Data Riset Terbaru dan Fakta Seismik
Data seismologis menunjukkan bahwa gempa dengan kedalaman menengah (100-300 km) seperti ini seringkali disebabkan oleh aktivitas subduksi lempeng tektonik di kawasan tersebut. Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), memang sangat rentan terhadap gempa bumi akibat pertemuan tiga lempeng utama: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Gempa berkekuatan 5,1 M termasuk dalam kategori sedang dan dirasakan oleh sebagian besar penduduk di sekitar pusat gempa, namun jarang menyebabkan kerusakan struktural parah jika kedalamannya cukup dalam seperti kasus ini (180 km). Penelitian terbaru tentang mitigasi bencana menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan kecepatan respons masyarakat di lapangan.

Studi Kasus: Mitigasi Bencana di Maluku Barat Daya
Kabupaten Maluku Barat Daya secara geografis berada di zona subduksi yang aktif. Studi kasus dari gempa-gempa sebelumnya di wilayah serupa menunjukkan bahwa respons cepat pemerintah daerah sangat menentukan tingkat keberhasilan evakuasi. Misalnya, penerapan simulasi gempa rutin di sekolah-sekolah dan kantor pemerintahan terbukti meningkatkan kesiapsiagaan warga. Infografis yang dirilis BMKG sering menekankan pola “Drop (tunduk), Cover (lindungi kepala), dan Hold On (berpegangan)” sebagai langkah pertahanan saat guncangan terjadi, terutama untuk mencegah cedera akibat reruntuhan ringan.

Jangan pernah meremehkan alam, karena kesiapsiagaan adalah kunci utama keselamatan jiwa. Tetap waspada, selalu perbarui informasi resmi dari sumber terpercaya, dan pastikan lingkungan sekitar aman untuk mengurangi risiko ketika bencana datang tanpa diduga.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan