Kelompok Bersenjata Serang Dua Gereja di Nigeria dan Culik 163 Jemaat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kelompok bersenjata melakukan penyerangan terhadap dua gereja yang berlokasi di negara bagian Kaduna, Nigeria utara, pada hari Minggu. Aksi brutal ini mengakibatkan penculikan 163 jemaat Kristen dari kedua tempat ibadah tersebut.

Dilansir dari AFP pada Selasa, 20 Januari 2026, aksi kriminal oleh kelompok bandit di Nigeria kerap menyasar kegiatan penculikan massal demi mendapatkan tebusan serta menjarah desa-desa. Wilayah utara dan tengah negara terpadat di Afrika ini menjadi area yang paling rawan.

Insiden yang terjadi pada Minggu tersebut merupakan rangkaian terbaru dari gelombang penculikan yang menyasar umat Kristen dan Muslim di Nigeria tanpa pandang bulu.

“Penyerang datang dengan jumlah besar, mereka memblokir jalan masuk ke gereja dan memaksa jemaat untuk keluar menuju semak-semak,” ujar Pendeta Joseph Hayab, yang menjabat sebagai Kepala Asosiasi Kristen Nigeria untuk wilayah utara, pada Senin, 19 Januari 2026.

Hayab menambahkan, “Sesungguhnya ada 172 orang yang diculik, namun sembilan di antaranya berhasil melarikan diri, sehingga 163 orang masih ditahan oleh mereka.”

Laporan keamanan PBB yang turut diakses AFP mencatat angka lebih dari 100 orang diculik, yang menjadi pertanda adanya potensi serangan lebih lanjut di area-area terpencil negara bagian tersebut.

Para pria bersenjata itu menyergap dua gereja saat pelaksanaan misa hari Minggu di desa Kurmin Wali, yang berada di distrik Kajuru dengan mayoritas penduduk beragama Kristen.

Nigeria, yang penduduknya terbagi hampir merata antara Kristen di wilayah selatan dan Muslim di utara, menyimpan berbagai konflik internal. Para ahli menilai bahwa konflik ini menewaskan umat dari kedua belah pihak, seringkali tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Sebelumnya, pada November lalu, geng bersenjata juga menyandera lebih dari 300 siswa dan guru dari sekolah Katolik di negara bagian Niger. Mereka akhirnya dibebaskan beberapa minggu kemudian melalui dua tahap pembebasan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut menyoroti situasi ketidakamanan di Nigeria dengan fokus pada pembunuhan umat Kristen dan memberikan tekanan diplomatik kepada pemerintah Abuja.

Di akhir Desember, AS melancarkan serangan terhadap kelompok yang oleh mereka dan pemerintah Nigeria dikenal sebagai militan terkait kelompok Negara Islam di negara bagian Sokoto, wilayah barat laut.


Kasus penculikan massal di Nigeria ini menyoroti betapa rentannya keamanan sipil di tengah konflik yang kerap kali tidak memandang latar belakang agama. Fenomena ini bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga menghancurkan rasa aman masyarakat dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari. Konflik yang berkepanjangan seringkali dimanfaatkan oleh oknum untuk mencari keuntungan materiil melalui tebusan, menunjukkan bahwa akar masalah tidak hanya radikalisme, tetapi juga faktor ekonomi dan lemahnya penegakan hukum.

Data terkini menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat ketimpangan ekonomi tinggi cenderung lebih rentan terhadap aksi kriminal seperti penculikan. Studi kasus serupa di beberapa negara Afrika lainnya membuktikan bahwa pendekatan keamanan semata jarang berhasil tanpa dibarengi pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput. Ketika kesempatan ekonomi terbatas, kelompok rentan mudah direkrut menjadi bagian dari jaringan kriminal bersenjata.

Pemerintah global dan organisasi kemanusiaan perlu merancang strategi yang lebih holistik. Alih-alih hanya fokus pada penindakan militer, pendekatan yang mengedepankan mediasi, restorasi hak korban, dan pembangunan infrastruktur ekonomi di daerah konflik menjadi kunci jangka panjang. Tanpa solusi ini, gelombang kekerasan hanya akan berganti wajah, namun tetap meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat sipil.

Mari kita bangun kesadaran kolektif bahwa perdamaian bukan hanya ketiadaan perang, melainkan keberadaan keadilan dan kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat. Setiap serangan terhadap tempat ibadah adalah serangan terhadap kemanusiaan itu sendiri, dan kita semua bertanggung jawab untuk menjaga ruang aman bagi setiap individu untuk menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan