Aksi protes menentang pemerintah yang telah berlangsung selama berminggu-minggu di Iran kini menunjukkan tanda-tanda mereda. Penurunan intensitas gerakan massa ini terjadi setelah pemerintah menerapkan penindakan keras serta memutus akses internet secara luas. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah nyawa yang melayang akibat tindakan represif otoritas Teheran telah melampaui tiga ribu jiwa.
Demonstrasi ini bermula dari keluhan masyarakat mengenai kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Awalnya, protes terjadi di area pasar tradisional (bazaar) di Teheran pada akhir Desember tahun lalu. Namun, gerakan ini dengan cepat berubah menjadi gelombang penolakan massal yang menuntut pembubaran sistem teokrasi yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979. Massa mulai turun ke jalanan di berbagai kota besar pada 8 Januari. Sebagai respons, pihak berwenang memutus koneksi internet selama lebih dari satu pekan. Para aktivis menyebut langkah ini sengaja dilakukan untuk menyembunyikan skala penumpasan yang sebenarnya.
Institut Studi Perang yang berpusat di Amerika Serikat, salah satu lembaga yang memantau situasi di Iran, menilai bahwa tindakan brutal tersebut berhasil mematahkan perlawanan untuk sementara waktu. Dalam pernyataannya, institut ini menyebutkan bahwa meskipun penyebaran pasukan keamanan oleh rezim bersifat masif, keberlanjutannya diragukan, yang sebenarnya membuka peluang bagi aksi protes untuk kembali bangkit.
Di sisi lain, data dari organisasi hak asasi manusia (HAM) asal Norwegia, Iran Human Rights (IHR), mencatat setidaknya 3.428 demonstran tewas akibat kekerasan pasukan keamanan. IHR memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Perkiraan lain menyebut korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang, bahkan berpotensi menyentuh angka 20.000 orang, terutama karena kesulitan verifikasi akibat pemadaman internet yang meluas.
Saluran oposisi berbahasa Persia, Iran Internasional, yang mendapatkan informasi dari sumber internal pemerintah dan keamanan Iran, melaporkan angka yang lebih mencengangkan: sedikitnya 12.000 orang tewas selama masa protes. Mahmood Amiry-Moghaddam, Direktur IHR, mengutip kesaksian mengerikan dari saksi mata tentang eksekusi di jalanan, penggunaan senjata kelas militer, dan penembakan demonstran yang sedang berusaha melarikan diri.
Sementara itu, laporan dari Human Rights Activists in Iran (HRANA) yang berbasis di AS menyebutkan per 15 Januari, terdapat 2.677 kematian yang terkonfirmasi, dengan 1.699 kasus dugaan kematian lainnya masih dalam penyelidikan. Berbeda dengan laporan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancaranya dengan Fox News bersikukuh bahwa jumlah korban hanya “ratusan orang”. Ia menuduh kelompok-kelompok di luar negeri menyebarkan informasi berlebihan dan disinformasi hanya untuk memancing Presiden AS Donald Trump menepati ancaman militernya. Hingga saat ini, otoritas Iran hanya melaporkan puluhan kematian di pihak pasukan keamanan mereka, tanpa memberikan data terbaru secara keseluruhan.
Di tengah laporan yang saling bertentangan mengenai jumlah korban jiwa, penting untuk memahami dinamika yang terjadi di balik layar internet yang padam. Penelitian terbaru dari lembaga NetBlocks mengonfirmasi bahwa gangguan koneksi di Iran terjadi secara terstruktur dan bukan sekadar kegagalan teknis. Analisis teknis menunjukkan pola pemadaman yang disesuaikan dengan jadwal protes, mengindikasikan kontrol informasi yang sangat ketat. Ini adalah strategi modern dalam perang narasi, di mana kebenaran hanya bisa ditembus melalui jaringan pribadi virtual (VPN) yang seringkali juga diblokir.
Kita seringkali terjebak pada angka-angka statistik, namun di balik data 3.428 hingga 12.000 jiwa tersebut, terdapat kisah individu yang berjuang untuk kebebasan dasar. Studi kasus dari aktivis digital menunjukkan bagaimana generasi muda Iran menggunakan platform media sosial dengan cerdik, menyembunyikan identitas mereka untuk menyebarkan bukti visual kejahatan yang dilakukan aparat. Mereka berhadapan dengan algoritma sensor yang canggih, namun tetap berusaha menghubungkan realitas di jalanan dengan dunia luar. Fenomena ini mengajarkan kita bahwa meskipun teknologi bisa menjadi alat penindasan, ia juga menjadi senjata bagi mereka yang ingin berbicara.
Menghadapi situasi kompleks dengan fakta yang beragam, kita diingatkan untuk tidak mudah terpaku pada satu narasi saja. Setiap data yang muncul ke permukaan adalah hasil perjuangan panjang para jurnalis dan aktivis di lapangan. Mari terus membuka wawasan dengan menyeleksi informasi secara kritis, sehingga kita tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga bagian dari kesadaran global yang menjunjung kebenaran dan kemanusiaan di mana pun konflik terjadi.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.