Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas dukungan yang diberikan Moskow di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait aksi protes yang terjadi di Iran. Ucapan terima kasih tersebut disampaikan Pezeshkian dalam percakapan teleponnya dengan Putin, yang dilakukan sehari setelah isu mengenai protes di Iran menjadi agenda pembahasan di sidang Dewan Keamanan PBB.
Dalam dialog bilateral tersebut, Pezeshkian menilai Rusia menunjukkan konsistensi dalam mendukung Iran. Melalui pernyataan resminya, Presiden Iran itu juga menuding adanya intervensi dari kekuatan asing dalam kerusuhan terbaru di negaranya.
“Peran serta keterlibatan langsung Amerika Serikat dan rezim Zionis dalam insiden-insiden terkini di Iran terlihat begitu nyata,” ucap Pezeshkian, yang mengacu pada Israel, seperti dikutip AFP pada Sabtu (17/1/2026).
Sebelumnya, dalam forum Dewan Keamanan PBB di New York pada Kamis (15/1/2026), Duta Besar Rusia untuk PBB menyalahkan Amerika Serikat sebagai pihak yang memperburuk situasi. Rusia menilai langkah Washington telah “memanaskan suasana dan memicu kegaduhan” terkait gejolak protes di Iran.
Analisis dan Konteks Geopolitik Terkini
Dinamika hubungan bilateral antara Iran dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir memang semakin memanas, terutama dalam konteks strategi keamanan regional. Keduanya kerap berada dalam satu barisan untuk menentang dominasi Barat, yang memicu pembentukan aliansi strategis yang lebih solid. Di tengah tekanan sanksi ekonomi yang dihadapi oleh kedua negara, kerja sama sektor pertahanan dan energi menjadi tulang punggung hubungan mereka. Misalnya, pengiriman drone tempur buatan Iran ke Rusia yang dilaporkan oleh berbagai intelijen Barat menjadi salah satu bukti nyata kemitraan militer yang kian erat.
Situasi protes domestik di Iran sering kali menjadi isu sensitif yang melibatkan aktor luar. Data dari berbagai lembaga pemantau hak asasi manusia menunjukkan bahwa gelombang protes di Iran kerap disertai dengan narasi intervensi asing, yang kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperkuat narasi pertahanan nasional. Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya kerap menyoroti pelanggaran hak asasi manusia di Iran sebagai dasar untuk memberikan tekanan diplomatik dan sanksi lebih lanjut. Situasi ini menciptakan lingkaran setan diplomasi yang sulit ditembus, di mana setiap konflik domestik di Iran berpotensi menjadi medan pertempuran proksi antara kekuatan besar dunia.
Studi Kasus: Aliansi Strategis Iran-Rusia di Tengah Sanksi Barat
Sebuah studi kasus menarik terjadi pada tahun 2023, di mana Iran dan Rusia menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan yang luas. Ketika konflik di Ukraina memanas, kebutuhan Rusia akan amunisi meningkat drastis. Iran, yang memiliki industri pertahanan mandiri meskipun terbatas, masuk sebagai pemasok krusial. Data menunjukkan bahwa drone Shahed buatan Iran digunakan secara masif di medan perang Ukraina, yang memicu kemarahan negara-negara NATO. Di sisi lain, Rusia memberikan dukungan teknologi nuklir sipil dan pertahanan udara kepada Iran. Hubungan simbiosis ini menunjukkan bagaimana tekanan Barat justru memaksa dua negara yang terisolasi untuk saling memperkuat satu sama lain. Fenomena ini mengilustrasikan bahwa sanksi ekonomi sering kali tidak mematahkan rezim, melainkan memaksa mereka untuk berinovasi dan mencari sekutu baru yang lebih kuat.
Implikasi Diplomasi Modern di Panggung Global
Kasus ini menggambarkan pentingnya memahami geopolitik global saat ini, di mana konflik tidak lagi hanya soal militer, tetapi juga tentang narasi dan informasi. Pernyataan Pezeshkian yang menuding Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar retorika politik, melainkan bagian dari strategi komunikasi untuk membangun simpati domestik dan mengalihkan perhatian dari isu internal. Bagi pembaca, memahami konteks di balik berita konflik adalah kunci untuk tidak terjebak dalam bias media. Alih-alih hanya melihat konflik sebagai “siapa yang salah”, melihatnya sebagai permainan kepentingan antar negara akan memberikan perspektif yang lebih jernih. Di era digital, di mana informasi bergerak begitu cepat, kemampuan untuk menganalisis motif di balik setiap pernyataan politik menjadi senjata paling ampuh untuk tetap objektif.
Masa depan hubungan internasional akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara-negara berkembang membentuk koalisi untuk melawan dominasi hegemoni. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi teruslah memperbarui wawasan Anda tentang dinamika global ini untuk memahami dunia dengan lebih utuh dan kritis.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
๐ Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
๐ Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.