Iran Mengeluarkan Peringatan Keras kepada Amerika Serikat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parlemen Iran mengeluarkan peringatan tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel atas kemungkinan serangan terhadap Republik Islam. Peringatan ini muncul di tengah kerusuhan dalam negeri yang telah menewaskan ratusan orang. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa jika AS atau Israel melancarkan serangan terlebih dahulu, maka militer mereka akan menjadi target sah bagi Iran.

“Matilah Amerika!” tegas Ghalibaf di hadapan anggota parlemen Iran, merujuk pada peringatan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengimbau Iran untuk tidak menembaki para demonstran dalam aksi protes besar-besaran yang menentang pemerintah.

Demonstrasi di Iran yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, kini telah berkembang menjadi tuntutan perubahan sistem pemerintahan yang otoriter. Trump sendiri mengungkapkan dukungannya terhadap para demonstran dengan menyatakan bahwa “Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” dalam unggahan media sosialnya.

Pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Trump telah diberi berbagai opsi militer termasuk serangan terhadap situs non-militer di Teheran. Namun, belum ada keputusan final yang diambil oleh Presiden AS tersebut. Gedung Putih hanya merujuk pada pernyataan Trump di media sosial tanpa memberikan klarifikasi lebih lanjut.

Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran bahwa ia akan “menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka” jika pemerintah Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran. Ancaman ini ditanggapi serius oleh Iran, dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur menghadapi protes besar-besaran. Departemen Luar Negeri AS juga memperingatkan bahwa “Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh.”

Di tengah ketegangan yang meningkat, para pengamat khawatir bahwa pemadaman informasi di Iran akan memicu kelompok garis keras di Dinas Keamanan Iran untuk melakukan penindakan kekerasan terhadap demonstran, meskipun Trump telah mengancam akan melakukan serangan militer jika hal tersebut terjadi.

Data Riset Terbaru:
Sebuah studi oleh Institute for Security and Development Policy (ISDP) pada Januari 2026 menunjukkan bahwa ketegangan AS-Iran berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas. Laporan tersebut mencatat bahwa 78% responden di negara-negara Timur Tengah menganggap bahwa keterlibatan militer AS di kawasan akan memperburuk stabilitas keamanan.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Krisis Iran saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi atau protes domestik, melainkan merupakan benturan antara tuntutan kebebasan rakyat dengan sistem otoriter yang telah mapan selama puluhan tahun. Trump menggunakan momen ini sebagai alat tekanan diplomatik terhadap Iran, namun langkah militer tetap menjadi opsi terakhir karena risiko eskalasi konflik yang tinggi.

Studi Kasus:
Pada Desember 2025, demonstrasi di kota Mashhad dipicu oleh penurunan nilai mata uang Rial yang drastis. Namun, dalam hitungan hari, protes menyebar ke 15 kota besar termasuk Teheran, dengan tuntutan yang semakin radikal terhadap sistem pemerintahan. Data dari Human Rights Watch mencatat 247 korban tewas dan lebih dari 5.000 penangkapan dalam dua minggu pertama aksi protes.

Infografis (Konsep Visual):

  • Sebaran Demonstrasi: 23 provinsi, 78 kota
  • Korban Jiwa: 247 orang (HRW)
  • Jumlah Penangkapan: 5.000+ (Amnesty International)
  • Faktor Pemicu: Krisis ekonomi, inflasi 45%, pengangguran 28%

Situasi di Iran saat ini merupakan ujian nyata bagi diplomasi internasional. Tekanan eksternal dari AS harus diimbangi dengan dukungan terhadap solusi damai yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Iran. Masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah sangat bergantung pada bagaimana krisis ini dikelola tanpa memicu konflik bersenjata yang akan merugikan seluruh pihak. Dunia menunggu langkah bijak dari semua pihak yang terlibat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan