Bantah Harga Beras Melejit, Bos Bulog Jamin Masih Sesuai HET

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, terjadi tren kenaikan harga beras pada Desember 2025, baik di tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran. Namun, klaim berbeda disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Ia menegaskan bahwa harga beras di lapangan tetap stabil dan sesuai dengan acuan pemerintah, yaitu Harga Eceran Tertinggi (HET).

Rizal menuturkan bahwa selama periode Natal dan Tahun Baru, tidak ada aduan atau keluhan dari masyarakat mengenai lonjakan harga beras, baik di tingkat konsumen maupun kebutuhan pokok lainnya. Menurutnya, harga yang beredar di pasaran masih berada dalam batas aman yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari upaya pemantauan harga secara intensif dan operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah serta Satgas Pangan. Ia menilai langkah-langkah tersebut cukup efektif dalam menjaga stabilitas harga di pasaran, terutama menjelang hari-hari besar.

Rizal juga menyampaikan bahwa harga beras medium tidak boleh melebihi Rp12.500 per kilogram, sementara beras premium maksimal Rp14.900 per kilogram. Ia menegaskan bahwa harga di lapangan masih berada di bawah batas tersebut, sehingga tidak ada kenaikan signifikan yang perlu dikhawatirkan.

Namun, data dari BPS menunjukkan tren yang berbeda. Harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp13.488 per kilogram, dengan kenaikan sebesar 6,38% secara tahunan (yoy) dan 1,26% secara bulanan (mtm). Jika dilihat berdasarkan kualitas, beras premium mengalami kenaikan 2,62% (mtm) dan 6,92% (yoy), sedangkan beras medium naik 0,67% (mtm) dan 6,72% (yoy).

Di tingkat grosir, harga beras tercatat sebesar Rp14.162 per kilogram, naik 5% secara tahunan dan 0,22% secara bulanan. Sementara itu, harga beras di tingkat eceran mencapai Rp15.081 per kilogram, dengan kenaikan 0,18% (yoy) dan 3,64% (mtm).

Perbedaan data ini menunjukkan adanya disparitas antara harga di lapangan dan harga yang tercatat di level produksi dan distribusi. Hal ini perlu menjadi perhatian agar stabilitas harga beras tetap terjaga, terutama di tengah tingginya permintaan menjelang hari-hari besar.

Data terbaru dari survei pasar yang dilakukan oleh Lembaga Survei Independen (LSI) pada Januari 2026 menunjukkan bahwa harga beras medium di sejumlah pasar tradisional di Jabodetabek berkisar antara Rp12.000 hingga Rp12.800 per kilogram, masih dalam batas HET. Namun, di beberapa wilayah seperti Bandung dan Surabaya, harga beras premium sempat menyentuh angka Rp15.500 per kilogram, melebihi batas yang ditetapkan pemerintah.

Sebuah studi kasus di Pasar Tradisional Cipulir, Jakarta Selatan, menunjukkan bahwa meskipun harga beras di tingkat grosir mengalami kenaikan, pedagang eceran masih menjual beras dengan harga sesuai HET. Hal ini dikarenakan adanya pasokan beras dari Bulog yang stabil dan penyaluran melalui program operasi pasar.

Sebuah infografis yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan menunjukkan tren harga beras sepanjang tahun 2025. Data menunjukkan bahwa harga beras mengalami fluktuasi, namun secara keseluruhan masih berada dalam batas aman. Namun, perlu diwaspadai adanya potensi kenaikan harga di masa mendatang jika pasokan tidak seimbang dengan permintaan.

Kita perlu waspada dan terus memantau pergerakan harga beras di pasaran, terutama di masa-masa mendatang. Stabilitas harga beras bukan hanya soal ekonomi, tapi juga menyangkut ketahanan pangan nasional. Dengan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, Bulog, hingga pelaku pasar, kita bisa menjaga harga beras tetap terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan