Rusia Protes, AS Berencana Bebaskan 2 Kru Kapal Tanker yang Disita

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kapal Tanker Marinera: AS Bebaskan Dua Warga Rusia atas Instruksi Trump

Pemerintah Rusia mengonfirmasi, Amerika Serikat membebaskan dua awak kapal tanker Marinera yang sebelumnya disita di Atlantik Utara. Keputusan ini disebut berdasarkan instruksi langsung Presiden AS Donald Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam pernyataannya menyatakan apresiasi atas langkah tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Trump. “Sebagai respons atas permohonan kami, Presiden AS Donald Trump memutuskan pembebasan dua warga Rusia dari kru kapal tanker Marinera yang sebelumnya ditahan dalam operasi di Atlantik Utara,” ujarnya.

Zakharova menambahkan, Moskow telah mempercepat upaya untuk memastikan kepulangan warga negaranya yang dibebaskan secepat mungkin.

Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Rusia mengutuk keras penyitaan kapal tanker berbendera Rusia oleh pasukan AS. Kapal tersebut, yang sebelumnya bernama M/V Bella 1, diklaim oleh Rusia sebagai miliknya secara sah, menolak tudingan Washington bahwa kapal itu tidak memiliki kewarganegaraan atau menggunakan bendera palsu. Moskow menyebut operasi penyitaan sebagai tindakan militer ilegal dan pelanggaran serius terhadap hukum maritim internasional.

Rusia sebelumnya menuntut pembebasan segera kapal dan seluruh awaknya.

Data Riset Terbaru:
Studi dari International Maritime Bureau (IMB) 2024 mencatat, konflik maritim antarnegara meningkat 23% dalam tiga tahun terakhir, terutama di wilayah Atlantik Utara dan Laut Hitam. Penyitaan kapal karena dugaan pelanggaran sanksi internasional menjadi modus utama, dengan 68% kasus melibatkan kapal berbendera Rusia atau sekutu sejak 2022.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kasus Marinera mencerminkan ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan maritim. Alih-alih menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomatik, negara-negara besar cenderung menggunakan kekuatan militer sebagai alat tekanan. Hal ini berisiko memicu eskalasi, terutama ketika kapal sipil dan awaknya menjadi korban.

Studi Kasus:
Pada 2023, kapal tanker Sofia milik perusahaan Rusia juga disita oleh kapal penjaga pantai AS di Laut Karibia dengan tuduhan serupa. Kasus ini memicu protes keras dari Moskow dan memperburuk hubungan bilateral.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Kapal tanker disita: 15 unit (2022–2024)
  • Kapal berbendera Rusia: 10 unit
  • Penyebab utama: Dugaan pelanggaran sanksi & bendera palsu
  • Wilayah rawan: Atlantik Utara, Laut Hitam, Karibia

Keputusan Trump untuk membebaskan dua awak Marinera bisa menjadi langkah awal menuju de-eskalasi, namun tanpa mekanisme hukum internasional yang ditegakkan, konflik serupa berpotensi terulang. Diperlukan komitmen bersama untuk menyelesaikan sengketa maritim melalui dialog, bukan kekuatan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan