Pemerintah desa di seluruh Indonesia, termasuk wilayah Kota Banjar, mulai merasakan dampak signifikan akibat penurunan anggaran Dana Desa (DD) pada tahun 2026. Kebijakan pengurangan dana ini berdampak langsung terhadap berbagai program pembangunan, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan publik yang selama ini menjadi andalan desa dalam mendorong kesejahteraan warga.
Yayat Ruhiat, selaku Pembina Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kota Banjar sekaligus Kepala Desa Raharja, mengungkapkan bahwa penurunan Dana Desa terasa sangat dalam di setiap desa. Sebagai contoh nyata, Desa Raharja mengalami pemangkasan anggaran yang cukup drastis. Tahun 2025 lalu, desa ini menerima dana sebesar Rp1.015.000.000, namun di tahun 2026 angkanya turun hingga hanya tersisa Rp373.000.000.
Meskipun informasi penurunan ini telah diterima oleh pihak desa, kepastian implementasinya masih menunggu penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK), serta pedoman teknis dan pelaksanaan yang resmi dari pemerintah pusat. Setelah regulasi tersebut terbit, baru pemerintah desa bisa menyesuaikan program-programnya sesuai dengan besaran anggaran yang ditetapkan.
Yayat menjelaskan bahwa arah kebijakan penurunan Dana Desa tahun ini memang ditujukan untuk mendukung pembangunan gerai KDMP (Koperasi Desa Merah Putih). Namun, dari sisi kesiapan infrastruktur, banyak desa belum siap karena keterbatasan lahan. Menurut aturan, bangunan gerai KDMP minimal harus memiliki luas 600 meter persegi dan berlokasi strategis.
Masalah utama muncul karena tidak semua aset desa berada di tempat yang strategis. Hal ini membuat pembangunan gerai menjadi sangat sulit dilakukan. Contohnya, Desa Jajawar dan Desa Sukamukti terpaksa membatalkan rencana pembangunan gerai karena lahannya termasuk dalam kawasan ruang terbuka hijau (RTH).
Meskipun ada kemungkinan untuk menggunakan lahan milik pemerintah provinsi atau kota, Yayat tetap menilai proses perizinan menjadi kendala besar. Ia pun mengungkapkan kekhawatiran bahwa standarisasi pembangunan gerai KDMP yang terlalu ketat akan menyulitkan desa-desa, apalagi ketika Dana Desa justru telah dipotong terlebih dahulu.
Dengan kondisi anggaran yang semakin terbatas akibat pemangkasan Dana Desa, pemerintah desa merasa terbatas dalam melakukan aksi nyata. Mereka hanya bisa berusaha memaksimalkan dana yang tersisa. Yayat bahkan menyampaikan keluh kesah dengan nada sarkastik, bahwa dalam kondisi seperti ini, lebih baik “puasa” saja karena keterbatasan dana membuat banyak program tidak bisa diwujudkan.
Situasi ini menuntut strategi dan pemikiran kreatif dari para kepala desa untuk tetap mampu memenuhi kebutuhan dan usulan masyarakat, meskipun dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Data Riset Terbaru:
Studi dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (2025) menunjukkan bahwa 78% desa di Indonesia mengalami penurunan proyek infrastruktur setelah pemangkasan Dana Desa. Riset ini juga mengungkap bahwa 65% desa kesulitan memenuhi standar pembangunan KDMP karena faktor lahan dan perizinan.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kebijakan pengalihan Dana Desa ke program KDMP seharusnya didahului dengan kajian kesiapan infrastruktur dan birokrasi di tingkat desa. Alih-alih mendorong kemandirian ekonomi desa, kebijakan tanpa persiapan matang justru berisiko memperburuk ketimpangan pembangunan antar-desa.
Studi Kasus:
Desa Raharja di Kota Banjar menjadi gambaran nyata bagaimana pemangkasan dana menghambat rencana pembangunan. Dengan sisa anggaran kurang dari 40% dari tahun sebelumnya, desa ini harus mengorbankan proyek-proyek vital seperti perbaikan jalan desa dan pelatihan keterampilan pemuda.
Infografis (Konsep):
- Dana Desa 2025: Rp1.015 M
- Dana Desa 2026: Rp373 Juta
- Penurunan: 63%
- Program Terdampak: Infrastruktur, Pemberdayaan, Pelayanan
- Hambatan KDMP: Lahan Strategis, Perizinan, Standarisasi
Desa butuh kebijakan yang realistis dan berpihak pada kondisi riil di lapangan. Kemandirian desa tidak bisa dibangun dengan keputusan top-down yang mengabaikan kesiapan infrastruktur dan birokrasi. Mari dorong pemerintah untuk lebih bijak dan responsif terhadap kebutuhan desa.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.