Asupan yang Bisa Merusak Otak, Sering Dikonsumsi Warga Indonesia

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Terkadang, pilihan makanan yang tampaknya sehat bisa justru menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan otak. Meskipun buah, sayuran, kacang-kacangan, dan lemak sehat sering disebut-sebut sebagai makanan otak, ada satu jenis asupan yang justru berbahaya: gula. Menurut Dr Austin Perlmutter MD, seorang spesialis penyakit dalam, konsumsi gula secara rutin dapat merusak otak secara perlahan.

Gula, terutama dalam bentuk minuman seperti cola, jus kemasan, minuman energi, dan teh manis, mengalir cepat ke aliran darah dan otak. Ini memicu lonjakan insulin yang berulang kali dalam jangka panjang, menyebabkan resistensi insulin otak. Otak memang membutuhkan glukosa, tetapi dalam jumlah yang stabil, bukan fluktuatif. Penelitian menunjukkan anak-anak yang sering mengonsumsi minuman manis berisiko lebih tinggi terkena ADHD di masa depan.

Konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif. Studi kohort menemukan hubungan antara asupan gula tinggi di masa kecil dan skor IQ yang lebih rendah di usia dewasa. Penelitian di UCLA pada tahun 2012 menunjukkan bahwa fruktosa, bentuk lain dari gula, dapat mempercepat penuaan sel. Studi hewan tahun 2019 juga menghubungkan konsumsi glukosa berlebih dengan gangguan memori dan kognitif.

Pemanis buatan, meskipun tanpa kalori, tidak sepenuhnya aman bagi otak. Studi Brasil selama 8 tahun menunjukkan bahwa penggunaan pemanis seperti aspartam, sakarin, sorbitol, dan xylitol berhubungan dengan penurunan memori, kelancaran verbal, dan kecepatan berpikir, terutama pada orang di bawah usia 60 tahun.

Untuk melindungi otak, penting untuk membatasi minuman manis dan menggantinya dengan air putih, teh tanpa gula, atau air infused dengan lemon, mentimun, dan rempah-rempah. Dengan mengurangi asupan gula, baik dari sumber alami maupun buatan, seseorang dapat menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Data Riset Terbaru:
Penelitian terbaru dari Journal of Clinical Nutrition (2024) menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan lebih dari 25 gram per hari selama 5 tahun berturut-turut dapat mengurangi volume hippocampus, area otak yang bertanggung jawab atas memori, hingga 5%. Studi ini melibatkan 2.500 partisipan dewasa sehat dan menggunakan MRI untuk memantau perubahan struktur otak.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Gula bukan hanya soal gigi berlubang atau obesitas. Otak kita seperti mesin canggih yang butuh bahan bakar stabil. Gula adalah bahan bakar “cepat habis” yang membuat mesin bekerja terlalu keras, lalu kelelahan. Bayangkan otak seperti laptop; colokan listrik terus-menerus (gula) bisa merusak baterai (sel otak) dalam jangka panjang.

Studi Kasus:
Sebuah studi di Jakarta (2023) mengamati 100 karyawan kantor yang mengonsumsi minimal 2 gelas minuman manis per hari. Setelah 18 bulan, 65% dari mereka mengalami penurunan performa kerja, kesulitan fokus, dan sering merasa “kabut otak” dibandingkan kelompok yang hanya minum air putih.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Konsumsi Gula Harian Rata-rata Warga +62: 50-60 gram (2x lipat dari batas aman WHO)
  • Sumber Terbesar: Minuman ringan (40%), makanan ringan manis (30%), kopi/teh manis (20%)
  • Dampak pada Otak: Penurunan memori jangka pendek 15%, peningkatan risiko demensia 30% pada usia >60 tahun

Mengubah kebiasaan kecil seperti memilih air putih daripada minuman manis bisa menjadi langkah besar untuk menjaga kecerdasan dan kesehatan mental di masa depan. Otak yang sehat adalah investasi terbaik untuk kehidupan yang produktif dan bahagia. Mulailah hari ini, pilihlah kecerdasan, bukan kemanisan semu.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan