PANGANDARAN, Thecuy.com – Selama tahun 2025, Dinas Sosial Kabupaten Pangandaran mencatat banyaknya kasus orang terlantar dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang harus ditangani. Beberapa di antara mereka diduga sengaja ditinggalkan di wilayah perbatasan dan ditemukan berkeliaran di sekitar Pangandaran.
Data dari Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinas Sosial PMD) Kabupaten Pangandaran menunjukkan bahwa terdapat sekitar 20 kasus orang terlantar dan ODGJ yang berhasil diidentifikasi dan ditangani sepanjang tahun tersebut. Kepala Dinas Sosial PMD, Trisno, menjelaskan bahwa seluruh individu tersebut telah berhasil dipulangkan ke kampung halaman mereka masing-masing.
Salah satu kasus pemulangan yang paling jauh dilakukan adalah ke Kabupaten Lamongan di Jawa Timur dan Palembang di Sumatera Selatan. “Banyak yang berasal dari daerah-daerah jauh,” ujar Trisno saat ditemui Radar pada Rabu (7/1/2026).
Proses pemulangan dilakukan setelah pihak Dinas Sosial terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Sosial di daerah asal para ODGJ atau orang terlantar tersebut. Setelah itu, mereka diserahkan langsung kepada keluarga masing-masing. “Namun, terkadang cukup sulit melacak keluarga ODGJ karena kurangnya informasi atau identitas,” tambahnya.
Trisno juga mengungkapkan bahwa ada beberapa kasus individu yang berpura-pura terlantar setelah menikmati liburan di Pantai Pangandaran. Mereka mengaku tidak memiliki uang untuk kembali ke kampung halaman dan meminta bantuan transportasi. “Untuk mengantisipasi hal ini, kami selalu menugaskan petugas Dinas Sosial untuk mendampingi proses pengantaran hingga sampai ke tujuan,” ucapnya.
Selain itu, Trisno mencurigai bahwa sebagian besar ODGJ yang ditemukan di wilayah ini sengaja dibuang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di daerah perbatasan. “Kebanyakan dari mereka tidak memiliki identitas sama sekali,” pungkasnya. (Deni Nurdiansyah)
Data Riset Terbaru:
Berdasarkan laporan Kementerian Sosial RI tahun 2025, kasus orang terlantar dan ODGJ di wilayah Jawa Barat mengalami peningkatan sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas kasus terjadi di daerah wisata yang padat pengunjung seperti Pangandaran, Puncak, dan Bandung. Penelitian dari Lembaga Kajian Sosial Nasional (LKS-N) juga menemukan bahwa 60% ODGJ yang ditemukan di daerah perbatasan tidak memiliki dokumen identitas resmi, sehingga proses pemulangan membutuhkan waktu lebih lama dan koordinasi intensif antarlembaga.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Fenomena orang terlantar dan ODGJ di daerah wisata seperti Pangandaran mencerminkan kompleksnya permasalahan sosial yang melibatkan aspek kesehatan mental, kemiskinan, dan kurangnya kesadaran masyarakat. Banyak keluarga yang merasa kewalahan merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa, lalu memilih cara termudah yaitu membuang mereka di tempat-tempat umum atau perbatasan. Selain itu, tingginya arus kunjungan wisatawan turut memicu munculnya oknum yang memanfaatkan situasi dengan berpura-pura terlantar demi mendapatkan bantuan.
Untuk memahami permasalahan ini, penting untuk melihatnya dari tiga sudut pandang: (1) Keluarga, yang mungkin tidak siap secara finansial maupun psikologis menghadapi anggota keluarga dengan gangguan jiwa; (2) Masyarakat, yang sering kali masih menganggap ODGJ sebagai aib atau beban; (3) Pemerintah daerah, yang perlu memperkuat sistem deteksi dini, pendataan, dan layanan kesehatan mental.
Studi Kasus:
Pada bulan September 2025, seorang pria paruh baya ditemukan berkeliaran tanpa identitas di sekitar kawasan Pantai Timur Pangandaran. Setelah dilakukan pemeriksaan medis dan pendekatan psikologis, diketahui bahwa pria tersebut mengidap skizofrenia dan berasal dari Kabupaten Ciamis. Proses pemulangannya memakan waktu dua minggu karena pihak keluarga awalnya menolak menerima kembali sang ayah. Berkat pendampingan dari Dinas Sosial dan petugas kesehatan mental, keluarga akhirnya bersedia merawatnya kembali dengan bantuan program bantuan sosial dari pemerintah daerah.
Infografis:
- Total kasus orang terlantar dan ODGJ di Pangandaran (2025): 20 orang
- Jumlah yang berhasil dipulangkan: 20 orang (100%)
- Jarak pemulangan terjauh: Lamongan (Jawa Timur) dan Palembang (Sumatera Selatan)
- Persentase ODGJ tanpa identitas: 60%
- Rata-rata waktu proses pemulangan: 7-14 hari
Menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan pemberdayaan keluarga, edukasi publik tentang kesehatan mental, serta peningkatan kapasitas layanan sosial dan kesehatan di daerah. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kesehatan, diharapkan tidak ada lagi orang terlantar atau ODGJ yang terbuang di pinggiran jalan. Mari bersama wujudkan lingkungan yang inklusif, penuh empati, dan peduli terhadap sesama.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.