Banjir Bandang Terjang Dompu NTB hingga Makam Jebol, Mayat Terbawa Arus

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Banjir bandang menghantam Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebabkan makam-makam tersapu arus. Seorang anak kecil ditemukan terbawa banjir di antara tumpukan kayu.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (7/1/2026) sore. Anak tersebut sebelumnya telah meninggal dunia dan dimakamkan beberapa waktu lalu. Jasadnya terbawa arus setelah tempat pemakaman umum diterjang banjir. Warga setempat menemukannya saat air mulai surut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dompu, Wan Muhtajul, mengungkapkan bahwa jenazah tersebut sebelumnya telah terkubur sekitar 25 hari. Jasad itu merupakan warga Desa Cempi Jaya, Kecamatan Hu’u. Hingga malam hari, tanah kuburan masih tergenang air.

Banjir bandang tersebut menghantam tiga desa di Kecamatan Hu’u, yakni Desa Rasabou, Desa Daha, dan Desa Cempi Jaya. BPBD Dompu sedang melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak serta kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir.

Data Riset Terbaru menunjukkan bahwa intensitas banjir bandang di wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat meningkat dalam lima tahun terakhir. Faktor utama penyebabnya adalah perubahan iklim yang memicu curah hujan ekstrem serta kerusakan hutan di daerah hulu. Studi oleh Pusat Studi Lingkungan dan Bencana Universitas Mataram (2025) mencatat peningkatan frekuensi banjir bandang sebesar 40% dibandingkan periode 2015-2020.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Banjir bandang di Dompu bukan hanya masalah cuaca, tetapi juga akibat dari kerusakan ekosistem. Hutan di kawasan hulu yang gundul tidak mampu menyerap air hujan, sehingga air langsung mengalir deras ke permukiman. Infografis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan di Dompu mencapai 250 mm dalam waktu 6 jam, jauh di atas ambang batas normal.

Studi kasus serupa terjadi di Lombok Timur pada 2023, di mana banjir bandang menyebabkan longsor dan kerusakan infrastruktur. Namun, penanganan cepat oleh BPBD dan masyarakat setempat berhasil meminimalisasi korban jiwa. Inisiatif reboisasi oleh komunitas lokal di Lombok Timur juga menunjukkan penurunan risiko banjir bandang sebesar 30% dalam dua tahun terakhir.

Kita tidak bisa menghentikan hujan, tetapi kita bisa memperbaiki apa yang rusak. Lindungi hutan, rawat alam, dan bangun ketahanan komunitas. Setiap langkah kecil menuju lingkungan yang sehat adalah investasi besar bagi keselamatan generasi mendatang. Ayo mulai dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat, sebelum bencana datang lagi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan