Ekonomi Thailand kini sedang menghadapi tantangan serius yang datang dari berbagai sisi. Bank of Thailand (BoT) mengungkapkan bahwa daya saing negara tersebut terus menurun dalam jangka panjang, sementara ekspor mengalami tekanan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat dan nilai tukar baht yang terlalu kuat.
Thailand, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di kawasan Asia Tenggara, kini harus menghadapi beban berlapis. Selain penguatan mata uang, tekanan juga datang dari tingginya utang rumah tangga, ketegangan perbatasan dengan Kamboja, serta ketidakpastian politik menjelang pemilu Februari mendatang.
Piti Disyatat, Wakil Gubernur Bank of Thailand, menggambarkan tahun ini sebagai periode yang penuh ketidakpastian. Meski ruang kebijakan terbatas, ia menegaskan bahwa bank sentral tidak kehabisan opsi jika kondisi membutuhkan tindakan.
Dalam laporan kebijakan terbaru, BoT mencatat pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun lalu sebesar 1,3% secara tahunan, dengan ekspor naik 9,1%. Namun, tantangan lain muncul dari sisi inflasi. Indeks harga konsumen (CPI) utama turun 0,28% pada Desember dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah sebelumnya turun 0,49% pada November.
Angka ini jauh di bawah target inflasi bank sentral yang ditetapkan pada kisaran 1%-3%. Sementara itu, inflasi inti yang tidak termasuk harga energi dan bahan pangan segar, naik 0,59% secara tahunan pada Desember.
Bank sentral mencatat bahwa sepanjang 2025, CPI utama mengalami penurunan 0,14% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena turunnya harga bahan bakar dan listrik. Kementerian Perdagangan memperkirakan inflasi utama akan berada di kisaran minus 0,5% hingga 1% pada kuartal pertama 2026, dan sekitar 0% hingga 1% untuk keseluruhan tahun 2026.
Meski inflasi masih di bawah target, bank sentral menilai ekspektasi inflasi jangka menengah masih terjaga. Namun, risiko deflasi tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah kekuatan baht terhadap dolar AS. Sepanjang tahun lalu, baht menguat lebih dari 10% terhadap dolar, yang justru memperketat likuiditas bagi pelaku usaha kecil dan menengah, serta menekan kinerja ekspor.
Di tengah tantangan ini, Piti Disyatat tetap optimistis. Ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan kembali positif pada kuartal keempat 2025, dan target pertumbuhan tahun lalu sebesar 2,2% diyakini dapat tercapai.
Data Riset Terbaru 2026 menunjukkan bahwa ekspor barang Thailand ke AS turun 3,2% pada November 2025, sementara impor dari AS naik 1,8%. Angka ini mengindikasikan defisit perdagangan yang semakin melebar akibat kebijakan tarif Trump.
Analisis Unik dan Simplifikasi: Kondisi ekonomi Thailand saat ini bisa dianalogikan seperti mobil yang melaju di jalan menanjak dengan mesin yang kekurangan bahan bakar. Sementara itu, beban penumpang semakin bertambah, dan rem tiba-tiba ditarik.
Studi Kasus: UMKM tekstil di Chiang Mai melaporkan penurunan pesanan ekspor sebesar 15% sejak kebijakan tarif AS diberlakukan, sementara biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga listrik dan bahan baku.
Infografis: (Visualisasi data ekspor-impor Thailand dengan AS, tren nilai tukar baht terhadap dolar, dan proyeksi inflasi 2026)
Thailand memang sedang menghadapi ujian berat, namun dengan kebijakan yang tepat dan koordinasi yang solid antara bank sentral, pemerintah, dan pelaku usaha, negara ini memiliki potensi untuk bangkit kembali. Momentum pemilu Februari bisa menjadi awal baru untuk memperkuat fondasi ekonomi dan mengembalikan daya saing Thailand di kancah global. Saatnya bertindak cepat, tepat, dan kolaboratif untuk mengubah tantangan menjadi peluang.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.