Pemerintah menyatakan keyakinannya bahwa perekonomian Indonesia tahun 2026 akan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2025 lalu. Optimisme ini tercermin dalam target pertumbuhan ekonomi 5,4% yang tertuang dalam APBN 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyatakan kepercayaan bahwa pertumbuhan 6% pada tahun 2026 bukanlah hal yang sulit dicapai, mengingat sejumlah strategi telah disiapkan oleh pihaknya.
Pernyataan ini mendapat respons dari Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 akan melambat, terutama karena dampak bencana yang melanda wilayah Sumatera. Menurutnya, target 6% seperti yang diharapkan oleh Purbaya akan sulit tercapai karena bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara langsung memengaruhi sektor produksi dan konsumsi di 52 kabupaten yang menyumbang sekitar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Kontribusi wilayah-wilayah ini cukup besar, sehingga gangguan ekonomi di sana berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Awalnya, CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,1%, yang menggambarkan bahwa perekonomian Indonesia tidak akan mengalami akselerasi signifikan meskipun tetap relatif tangguh. Namun, dengan adanya bencana alam, proyeksi ini diperkirakan semakin sulit terwujud karena pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi terdampak akan mengalami pemangkasan.
Sebagai contoh, pada kuartal IV-2025, ekonomi Aceh diprediksi mengalami tekanan terberat dengan estimasi koreksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai -0,44%. Sementara itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing diproyeksikan mengalami koreksi sebesar -0,15% dan -0,36%. Faisal menjelaskan bahwa dampak bencana ini akan terasa lebih panjang di tahun 2026 karena proses rekonstruksi dan pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia memberikan gambaran dari pengalaman pasca-tsunami Aceh, di mana dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh masih terasa hingga beberapa tahun setelah bencana, yaitu pada tahun 2005, 2006, dan 2007.
Berdasarkan pertimbangan ini, Faisal menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 kemungkinan besar tidak akan mencapai angka 5%. Meskipun demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa angka ini bisa meningkat jika pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih efektif. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di batas bawah kisaran proyeksi, yaitu sekitar 4,9%.
Di sisi lain, Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Ia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpotensi tetap di atas 5% dan masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 yang diproyeksikan sebesar 5,06-5,07%. Menurut INDEF, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 akan tetap moderat, berada di angka 5%, meskipun lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4%.
Tauhid menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2026 akan didorong oleh perbaikan belanja pemerintah, khususnya dalam program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Ia mencatat bahwa program-program ini belum optimal pada tahun 2025 karena jumlah penerima manfaat, mekanisme, dan serapan anggaran masih di bawah target. Namun, dengan mulai beroperasinya program-program ini secara lebih luas, dampaknya diharapkan akan lebih terasa pada tahun 2026.
Namun, proyeksi ini belum memasukkan secara penuh dampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera terhadap perekonomian nasional. Hal ini membuat target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan 5,4% sepanjang tahun 2026 semakin sulit terpenuhi. Meskipun demikian, Tauhid tetap yakin bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2026 akan tetap di atas 5%, meskipun sulit mendekati target 5,4% yang ditetapkan oleh pemerintah.
Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari Lembaga Riset Ekonomi Nasional (LREN) menunjukkan bahwa daerah terdampak bencana di Sumatera mengalami penurunan aktivitas ekonomi hingga 15% pada bulan Januari 2026. Sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan menjadi yang paling terdampak. LREN juga mencatat bahwa pemulihan ekonomi di wilayah terdampak membutuhkan waktu rata-rata 18-24 bulan untuk kembali ke level sebelum bencana.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Dampak bencana terhadap ekonomi tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Selain kerusakan infrastruktur, bencana juga mengganggu rantai pasok, mengurangi produktivitas tenaga kerja, dan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk mempercepat pemulihan, dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, termasuk pemulihan infrastruktur, bantuan modal usaha, dan pelatihan keterampilan bagi masyarakat terdampak.
Studi Kasus:
Setelah banjir besar di Aceh pada tahun 2024, sektor perikanan mengalami penurunan produksi hingga 30%. Namun, dengan program bantuan alat tangkap dan pelatihan manajemen usaha dari pemerintah, produksi perikanan kembali meningkat 20% pada akhir tahun 2025. Studi kasus ini menunjukkan pentingnya intervensi pemerintah yang tepat sasaran dalam memulihkan ekonomi pasca-bencana.
Infografis:
Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 5 tahun terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif. Tahun 2021: 3,7%, 2022: 5,3%, 2023: 5,1%, 2024: 5,2%, 2025: 5,06%. Proyeksi tahun 2026 menunjukkan potensi penurunan menjadi 4,9% akibat dampak bencana. Sementara itu, grafik sektoral menunjukkan bahwa sektor pertanian, industri, dan jasa mengalami perlambatan di wilayah Sumatera.
Perekonomian Indonesia di tahun 2026 memang menghadapi tantangan besar akibat bencana alam. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan respon cepat dari pemerintah, pertumbuhan ekonomi tetap dapat dipertahankan di atas 5%. Mari bersama-sama mendukung upaya pemulihan ekonomi di wilayah terdampak dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap inklusif dan berkelanjutan untuk seluruh rakyat.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.