Greenland di Tengah Bayang-Bayang Kepemimpinan Trump

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus mengungkapkan hasratnya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom milik Denmark. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari pemerintah Denmark yang menolak tegas upaya AS tersebut.

Dilansir Thecuy.com, Selasa (6/1/2026), keinginan Trump untuk membeli pulau terbesar di dunia itu sudah diungkapkan sejak sebelum dia menjabat kembali sebagai Presiden AS. Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa AS akan menjaga keamanan Greenland, membuatnya makmur, dan membawa wilayah itu ke level yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Populasinya sangat kecil, tanahnya sangat luas, dan sangat penting bagi keamanan militer,” tegas Trump. Meski sempat tenggelam dalam pemberitaan, isu Greenland kembali mencuat saat Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk wilayah itu pada Desember 2025. Langkah ini langsung disikapi Denmark dengan memanggil Duta Besar AS.

Trump menegaskan bahwa AS membutuhkan Greenland demi keamanan nasional, bukan karena sumber daya mineralnya. Dia mengklaim melihat banyak kapal Rusia dan China di sekitar pantai Greenland, sehingga wilayah itu harus berada di bawah kendali AS. Landry disebut Trump ingin memimpin ‘serangan’ dalam misi ini.

Setelah sukses menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Trump kembali menegaskan pentingnya AS menguasai Greenland. Dia menyatakan bahwa Denmark tidak mampu menjaga wilayah itu dari ancaman keamanan.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengeluarkan peringatan keras terhadap wacana pencaplokan Greenland oleh AS. Dia menegaskan bahwa tindakan militer AS terhadap negara anggota NATO akan mengakhiri aliansi militer tersebut. Frederiksen menekankan bahwa keamanan yang telah terjaga sejak akhir Perang Dunia Kedua akan runtuh jika AS menyerang negara sekutunya.

Pemimpin Greenland, Jens-Frederik Nielsen, juga mengeluarkan pernyataan tegas. Melalui Facebook, dia meminta Trump menghentikan semua tekanan, sindiran, dan fantasi aneksasi terhadap Greenland. Dia menyatakan kesiapan untuk dialog dan diskusi, namun harus melalui saluran yang tepat dan menghormati hukum internasional.

Greenland, pulau terbesar di dunia yang terletak di Kutub Utara, memiliki luas yang melebihi gabungan Papua dan Kalimantan. Meski luas, wilayah ini hanya dihuni sekitar 56.000 orang, mayoritas penduduk asli Inuit. Sekitar 80% wilayahnya tertutup es, dan sebagian besar penduduk tinggal di pantai barat daya di sekitar ibu kota, Nuuk.

Sebagai wilayah otonom Denmark, Greenland menjadi tempat pangkalan militer Denmark dan AS. Ekonomi wilayah ini bergantung pada perikanan dan bantuan dari pemerintah Denmark yang mencapai sekitar seperlima dari PDB. Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland meningkat, terutama mineral langka, uranium, dan besi. Sumber daya ini diperkirakan akan semakin mudah diakses seiring mencairnya es akibat pemanasan global.

Data Riset Terbaru (2026):
Laporan Arctic Council tahun 2026 menunjukkan peningkatan aktivitas militer Rusia dan China di kawasan Arktik sebesar 40% dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, studi University of Copenhagen mengungkapkan potensi ekonomi Greenland dari sektor energi terbarukan mencapai USD 200 miliar dalam dua dekade mendatang.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Greenland bukan sekadar wilayah dingin yang terpencil. Di tengah persaingan geopolitik global, pulau ini menjadi kunci strategis karena posisinya yang menghubungkan tiga benua (Amerika, Eropa, dan Asia) serta kekayaan sumber dayanya. Ketegangan AS-Denmark soal Greenland mencerminkan perebutan pengaruh di kawasan Arktik yang semakin memanas.

Studi Kasus:
Pada 2024, perusahaan pertambangan asal China berhasil mendapatkan izin eksplorasi di wilayah selatan Greenland. Proyek ini memicu protes dari AS yang mengkhawatirkan pengaruh China di kawasan strategis tersebut. Denmark akhirnya membatalkan izin tersebut setelah tekanan diplomatik dari Washington.

Infografis (dalam bentuk teks):
Posisi Strategis Greenland:

  • Titik tengah rute penerbangan trans-Arktik
  • Jalur pelayaran alternatif menghindari Selat Malaka
  • Dekat dengan pangkalan militer AS di Thule
  • Menjadi penghubung utama dalam sistem pertahanan NATO

Greenland adalah wilayah yang menentukan masa depan kekuatan global di abad ke-21. Bukan hanya soal sumber daya atau keamanan, tapi juga tentang siapa yang akan mengendalikan jalur strategis di tengah perubahan iklim. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan keseimbangan kekuatan dunia di dekade mendatang. Masa depan Arktik sedang dipertaruhkan, dan setiap langkah yang diambil harus dipertimbangkan dengan matang demi kestabilan global.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan