China Hentikan Ekspor Mineral Strategis ke Jepang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Jepang kembali memanas. Kali ini, Beijing secara resmi menghentikan ekspor logam tanah jarang yang ditujukan untuk keperluan militer ke Tokyo. Langkah ini diambil sebagai respons atas pernyataan keras Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyatakan bahwa invasi militer Tiongkok terhadap Taiwan akan mengancam kelangsungan hidup Jepang.

Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan bahwa kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang akan segera diberlakukan. Namun, dalam pengumumannya, pihak kementerian tidak merinci secara spesifik produk mana saja yang akan terkena dampaknya. Dalam katalog barang-barang penggunaan ganda yang dikeluarkan oleh Tiongkok, larangan ekspor tidak hanya mencakup logam tanah jarang, tetapi juga meluas ke berbagai produk teknologi tinggi seperti komponen kedirgantaraan, pesawat terbang, drone, teknologi nuklir, dan perangkat elektronik canggih.

Logam tanah jarang merupakan bahan mentah strategis yang krusial dalam produksi berbagai perangkat modern. Jepang sangat bergantung pada pasokan logam ini dari Tiongkok, terutama untuk memproduksi barang elektronik, kendaraan, dan bahkan peralatan militer canggih seperti jet tempur F-35. Tanpa pasokan logam tanah jarang, industri teknologi dan pertahanan Jepang akan menghadapi tantangan serius dalam rantai pasokannya.

Sebelumnya, Tiongkok telah lama bersikeras bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya, meskipun sejak 1949 kedua pihak hidup terpisah dengan sistem pemerintahan yang berbeda. Beijing secara tegas bersumpah akan menggunakan segala cara, termasuk kekuatan militer, untuk mengintegrasikan kembali Taiwan ke dalam kendali Tiongkok.

Seorang juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok menjelaskan bahwa pembatasan ekspor ini diberlakukan sebagai bentuk respons terhadap pernyataan Takaichi yang dianggap mengganggu urusan dalam negeri Tiongkok dan melanggar prinsip satu-China. Pernyataan tersebut dinilai tidak hanya keliru secara substansi, tetapi juga berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan.

“Komentar-komentar ini merupakan campur tangan yang kasar dalam urusan internal China, secara serius melanggar prinsip satu-China, dan sangat berbahaya baik dari segi sifat maupun dampaknya,” tegas juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, seperti dikutip dari CNN pada Selasa (6/1/2026).

Tiongkok juga menegaskan bahwa setiap organisasi atau individu dari negara mana pun yang melanggar kebijakan pembatasan ekspor ini akan dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Beijing dalam menggunakan kekuatan ekonomi sebagai alat tekanan diplomatik terhadap negara-negara yang dianggap mengancam kepentingan nasionalnya.

Data Riset Terbaru:
Studi terbaru dari International Institute for Strategic Studies (IISS) tahun 2025 menunjukkan bahwa Tiongkok menguasai lebih dari 60% produksi logam tanah jarang global dan lebih dari 80% kapasitas pengolahan logam tersebut. Sementara itu, Jepang merupakan salah satu importir terbesar logam tanah jarang, dengan sekitar 70% kebutuhan logam ini dipasok dari Tiongkok. Riset tersebut juga mencatat bahwa ketergantungan global terhadap rantai pasokan logam tanah jarang dari Tiongkok masih sangat tinggi, meskipun sejumlah negara seperti AS, Australia, dan Uni Eropa telah berupaya membangun kapasitas produksi alternatif.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kebijakan Tiongkok ini mencerminkan bagaimana sumber daya alam strategis kini menjadi alat diplomatik dan ekonomi yang ampuh di tangan negara-negara besar. Alih-alih langsung menggunakan kekuatan militer, Tiongkok memilih pendekatan ekonomi yang lebih halus namun efektif dalam memberikan tekanan kepada lawan-lawannya. Pada saat yang sama, kebijakan ini memaksa Jepang dan sekutunya untuk mempercepat upaya diversifikasi rantai pasokan logam tanah jarang guna mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.

Studi Kasus:
Pada tahun 2010, Tiongkok pernah menerapkan kebijakan serupa dengan membatasi ekspor logam tanah jarang ke Jepang selama perselisihan maritim di Laut Cina Timur. Saat itu, harga logam tanah jarang melambung tinggi di pasar global, dan industri teknologi Jepang sempat terguncang. Kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi banyak negara untuk tidak terlalu bergantung pada satu sumber pasokan.

Infografis:

  • Kuota Produksi Logam Tanah Jarang Global (2025):

    • Tiongkok: 62%
    • Australia: 16%
    • AS: 10%
    • Myanmar: 5%
    • Lainnya: 7%
  • Ketergantungan Impor Logam Tanah Jarang oleh Jepang:

    • Dari Tiongkok: 70%
    • Dari Australia dan AS: 20%
    • Dari negara lain: 10%

Tiongkok kembali membuktikan bahwa kendali atas sumber daya strategis bisa menjadi senjata ampuh dalam permainan geopolitik modern. Bagi Jepang dan negara-negara lain, kemandirian energi dan material kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. Masa depan persaingan global tak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh siapa yang menguasai rantai pasokan bahan baku strategis.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan