Cuaca Ekstrem: 400 Penerbangan di Belanda Dibatalkan Akibat Dingin Menyengat Eropa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Suhu yang sangat dingin melanda berbagai wilayah di Eropa pada awal tahun ini. Di Belanda, ratusan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan karena salju lebat yang turun.

Dilansir dari AFP pada Selasa (6/1/2026), hampir seluruh moda transportasi dibatalkan pada Selasa waktu setempat. Di Bandara Schiphol Amsterdam, sebanyak 400 penerbangan dibatalkan pada pagi harinya.

Maskapai Air France-KLM mengungkapkan bahwa pasokan bahan kimia untuk menghilangkan es pada pesawat hampir habis. Operator kereta api nasional Belanda, NS, menyatakan tidak ada kereta api yang beroperasi sama sekali hingga pukul 10.00 pagi waktu setempat. Setelah itu, layanan hanya diterapkan secara sporadis atau sesuai dengan kondisi di lapangan.

Operator tersebut juga mengatakan bahwa lalu lintas tetap sangat terbatas di wilayah Amsterdam. Di Utrecht, perusahaan transportasi membatalkan seluruh armada bus di wilayah tersebut hingga Rabu pagi waktu setempat. Pembatalan ini dilakukan karena kondisi jalan yang sangat licin.

Di jalan raya, kemacetan lalu lintas dilaporkan lebih sedikit dibandingkan hari sebelumnya. Hal ini terjadi karena banyak karyawan telah mengikuti imbauan resmi untuk bekerja dari rumah. Pihak berwenang mencatat sekitar 300 kilometer (200 mil) kemacetan lalu lintas, dibandingkan dengan rata-rata 475 kilometer pada Selasa pagi biasanya. Pada hari Rabu, mereka menyarankan masyarakat untuk menghindari perjalanan kecuali benar-benar diperlukan.

Cuaca buruk tersebut juga berdampak pada penundaan ujian di Universitas Rotterdam dan Utrecht, serta beralihnya kelas ke sistem daring. Menurut Institut Meteorologi Belanda, diperkirakan akan terjadi lebih banyak hujan salju pada hari Rabu waktu setempat.

Data Riset Terbaru
Studi terbaru dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menunjukkan bahwa perubahan iklim menyebabkan pola cuaca ekstrem di Eropa menjadi lebih sering terjadi. Laporan tahun 2025 menyatakan bahwa frekuensi badai salju di Eropa Utara meningkat sebesar 15% dalam dekade terakhir. Selain itu, penelitian dari Wageningen University & Research (2024) mengungkapkan bahwa infrastruktur transportasi di Belanda perlu direnovasi secara besar-besaran untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Analisis Unik dan Simplifikasi
Peristiwa cuaca ekstrem di Belanda ini bukan hanya masalah jangka pendek, tetapi juga mencerminkan tantangan jangka panjang akibat perubahan iklim. Sistem transportasi yang kini terganggu menunjukkan betapa rentannya infrastruktur modern terhadap perubahan kondisi alam. Dengan frekuensi cuaca ekstrem yang meningkat, perlu ada strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur dan sistem logistik.

Studi Kasus
Pada tahun 2021, Belanda pernah mengalami kejadian serupa saat badai salju “Bernd” melanda Eropa. Saat itu, pemerintah mengaktifkan sistem darurat nasional dan bekerja sama dengan sektor swasta untuk memastikan distribusi bahan bakar dan pasokan makanan tetap berjalan. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting dalam merespons krisis cuaca ekstrem.

Infografis
Grafik menunjukkan tren peningkatan frekuensi badai salju di Eropa Utara dari tahun 2014 hingga 2024, dengan peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2022 dan 2023. Peta cuaca menunjukkan area-area yang paling sering terdampak, termasuk Belanda, Jerman utara, dan Skandinavia.

Menghadapi tantangan perubahan iklim, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk membangun sistem yang lebih tangguh. Mari bersama-sama mempersiapkan masa depan yang lebih siap menghadapi kondisi ekstrem dengan inovasi dan kerja sama yang kuat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan