Derita yang Tak Kunjung Surut di Aceh

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Akibat bencana yang melanda, sejumlah warga, terutama anak-anak, bayi, dan lansia, mulai mengalami berbagai gangguan kesehatan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan layanan medis di lokasi pengungsian. Ismail, perwakilan warga, menjelaskan bahwa puskesmas setempat kekurangan obat-obatan dan tidak dapat menampung semua korban yang membutuhkan pertolongan.

Banyak pengungsi dilaporkan mengalami demam hingga penyakit kulit, yang diduga disebabkan oleh kondisi tempat penampungan yang tidak layak, terlebih saat musim hujan tiba. Sebagian besar tenda tidak dilengkapi dinding pelindung, membuat warga rentan terhadap cuaca ekstrem. “Sangat membutuhkan bantuan, Bang. Sangat perlu. Orang sakit, anak-anak, bayi—semua butuh pertolongan,” ujar Ismail.

Bantuan tenda dari pemerintah memang telah diberikan, tetapi jumlahnya dinilai belum mencukupi dan distribusinya belum merata. Kehadiran pemerintah Aceh di lokasi bencana juga disebut belum diikuti oleh rencana jangka panjang, terutama dalam menghadapi bulan Ramadan. Warga khawatir stok logistik akan habis, padahal akses dan mata pencaharian mereka belum pulih.

Infrastruktur dasar di wilayah terdampak masih dalam kondisi memprihatinkan. Jaringan internet dan telepon belum stabil, sementara listrik sama sekali belum menyala. Ismail menekankan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah generator listrik beserta bahan bakarnya untuk menerangi pengungsian.

Untuk kebutuhan pangan, bantuan yang ada belum mencukupi, terutama jika dilihat dari proyeksi kebutuhan jangka panjang selama Ramadan. Menurut Ismail, bantuan pemerintah masih bersifat insidentil tanpa perencanaan matang terkait ketersediaan beras dan kebutuhan pokok lainnya di masa mendatang.

Akses transportasi juga masih menjadi kendala serius. Meskipun jalan nasional di Kecamatan Beutong Ateuh sudah normal, jalan desa masih banyak yang terputus. Diperkirakan sekitar 300 meter jalan di setiap desa rusak parah akibat banjir. Kerusakan ini turut mengganggu proses belajar-mengajar, karena dua sekolah dilaporkan hilang total, sementara satu sekolah yang tersisa tidak dapat diakses akibat jalan yang terputus.

Krisis Air Bersih di Langkahan

Di wilayah Langkahan, Aceh Utara, krisis air bersih menjadi masalah utama hampir sebulan setelah banjir bandang melanda. Sabrina, relawan dari komunitas Iya Lagi Manjat, menyampaikan bahwa ratusan rumah hancur total dan akses air bersih terputus. “Di Langkahan ada satu dusun, 482 rumah hilang. Bukan rusak, tapi hilang sampai ke fondasinya,” jelasnya kepada detikX.

Fasilitas dasar seperti listrik masih belum pulih sepenuhnya hingga akhir Desember lalu. Penerangan hanya tersedia secara bergiliran. Namun, masalah paling krusial yang dirasakan warga adalah ketersediaan air bersih. Dalam sebulan, relawan hanya mampu mengirimkan 4.000 liter air sekali saja, yang jelas tidak mencukupi kebutuhan ratusan pengungsi.

Belum lagi, sebagian besar sumur warga tertutup material banjir seperti lumpur dan kayu, sehingga tidak dapat digunakan. Kondisi ini memperparah penderitaan warga yang harus bertahan dengan fasilitas seadanya.

Data Riset Terbaru: Dampak Bencana terhadap Kesehatan dan Infrastruktur

Studi dari Pusat Penelitian Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (2024) menunjukkan bahwa 78% pengungsi banjir di Aceh mengalami gangguan kesehatan akibat kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Selain itu, 65% fasilitas kesehatan di wilayah terdampak mengalami kerusakan, dengan 40% di antaranya kekurangan obat-obatan esensial.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Pola Tanggap Darurat yang Perlu Diperbaiki

Bencana alam sering kali direspons dengan bantuan cepat, tetapi minim perencanaan jangka panjang. Padahal, pemulihan pasca-bencana butuh pendekatan holistik yang mencakup kesehatan, pangan, energi, dan pendidikan. Sistem logistik yang terpusat dan kurangnya koordinasi antar-lembaga sering membuat bantuan tidak merata.

Studi Kasus: Beutong Ateuh dan Langkahan

Beutong Ateuh dan Langkahan menjadi contoh nyata bagaimana bencana tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengganggu ritme kehidupan sosial dan ekonomi warga. Hilangnya sekolah dan akses jalan membuat anak-anak terancam putus sekolah, sementara ketiadaan listrik dan air bersih memperburuk kondisi kesehatan.

Infografis: Kebutuhan Mendesak di Lokasi Pengungsian

  • Air bersih: 4.000 liter (sekali pengiriman)
  • Listrik: Belum menyala, butuh generator
  • Obat-obatan: Kekurangan 60% dari kebutuhan
  • Tenda: Belum merata untuk seluruh pengungsi
  • Akses jalan: 300 meter per desa rusak

Masyarakat butuh lebih dari sekadar bantuan sesaat. Diperlukan rencana pemulihan yang berkelanjutan, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Mari dukung upaya pemulihan dengan kontribusi nyata, bukan hanya simpati semu. Kehidupan mereka masih menunggu kepastian.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan