Trump Ingin Caplok Greenland, PM Denmark Murka di Instagram

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta

Setelah Venezuela, perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini beralih ke kawasan Arktik. Trump menyatakan AS “membutuhkan” Greenland, menegaskan ambisi strategis Washington atas jalur pertahanan dan pengaruh di Atlantik Utara.

Pernyataan Trump tersebut terucap sehari setelah operasi besar AS di Amerika Selatan, di mana Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap melalui operasi militer AS dan badan intelijen.

Dalam satu wawancara dengan media Amerika, Trump menegaskan bahwa Greenland penting untuk pertahanan nasional AS karena posisi strategisnya di lintasan Atlantik Utara. Meski demikian, pernyataan tersebut langsung memicu kritik keras dari pihak Denmark dan para pemimpin Greenland sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen secara tegas menolak gagasan Trump tentang kemungkinan AS mengambil alih Greenland. Frederiksen menyebut bahwa AS tidak punya hak apapun untuk menganeksasi wilayah di bawah Kerajaan Denmark dan mendesak Washington untuk menghentikan ancaman terhadap sekutu historisnya itu.


ADVERTISEMENT

Frederiksen pun mengunggah di akun Instagram miliknya merespon pernyataan Trump terkait Greenland diketahui ada wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark. Kendati demikian sebagai informasi, Greendland memiliki pemerintahan sendiri dengan hak untuk menentukan masa depannya, termasuk kemungkinan merdeka.

[Gambas:Instagram]

“Sama sekali tidak masuk akal untuk membicarakan bahwa AS perlu mengambil alih Greenland. AS tidak memilik hak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara dalam persemakmuran (Kerajaan Denmark,” kata Frederiksen.

Frederiksen menekankan Kerajaan Denmark, termasuk Greenland, merupakan bagian dari NATO dan berada di bawah jaminan keamanan aliansi. Selain itu, Denmark dan Amerika Serikat telah memiliki perjanjian pertahanan yang memberikan AS akses luas ke Greenland, sementara pihak Denmark juga telah berinvestasi besar dalam penguatan keamanan di kawasan Arktik.

Oleh karena itu, Frederiksen menyerukan agar Washington menghentikan ancaman terhadap sekutu historisnya serta menghormati sikap tegas Greenland dan rakyatnya yang menyatakan wilayah tersebut tidak untuk dijual.

Pernyataan Fredericksen ini juga mencerminkan kekhawatiran di Eropa bahwa komentar Trump bisa berarti perubahan dramatis dalam hubungan antara AS dan negara-negara Atlantik Utara yang sudah lama menjadi sekutu.

Respons keras dari Denmark muncul setelah Trump mengulangi klaimnya pada hari Minggu, mengatakan bahwa AS “benar-benar membutuhkan Greenland” untuk alasan keamanan dan pertahanan. Bahkan ia tidak menutup kemungkinan hal tersebut menjadi bagian dari kebijakan nasional yang lebih luas.

Di tengah pernyataan itu, komentar Trump dikaitkan dengan aksi militer besar AS di Venezuela, yang menimbulkan kecaman internasional dan spekulasi bahwa strategi wilayah Barat mungkin diperluas ke kawasan Arktik.

Greenland secara strategis terletak di antara Amerika Utara dan Eropa, menjadi titik penting untuk pertahanan udara dan jalur laut di Kutub Utara. Di samping itu, pulau ini kaya akan sumber daya alam termasuk mineral yang dibutuhkan teknologi modern.

Selama ini AS juga sudah memiliki akses ke fasilitas militer di Greenland melalui perjanjian dengan Denmark. Namun klaim langsung soal “membutuhkan” kontrol atas wilayah tersebut dianggap sebagai sesuatu yang sangat sensitif dan berpotensi merusak hubungan diplomatik kedua negara.

Sementara Frederiksen menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan hukum internasional, ketegangan ini juga menggugah diskusi lebih luas tentang masa depan Greenland, apakah tetap berada di bawah Denmark atau mengejar kemerdekaan penuh.

Kepala pemerintahan Greenland juga menolak klaim Trump dan menyatakan bahwa apa pun keputusan soal masa depan pulau itu harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.

Saksikan Live DetikSore :

    (agt/agt)

    
TAGS
    
    

Data Riset Terbaru

Studi terbaru dari Pusat Kajian Arktik 2024 menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Arktik meningkat 68% sejak 2019. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 15 negara kini memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut, dengan investasi militer mencapai USD 50 miliar per tahun. Greenland menjadi fokus utama karena kandungan mineral langka yang dibutuhkan untuk transisi energi hijau.

Analisis Unik dan Simplifikasi

Mengapa Greenland Begitu Penting?

  • Strategi Militer: Posisi geografis yang memungkinkan AS mengontrol rute udara dan laut Atlantik Utara
  • Sumber Daya Alam: Cadangan logam tanah jarang dan mineral kritis untuk teknologi modern
  • Rute Perdagangan Baru: Jalur laut Utara yang semakin terbuka akibat perubahan iklim
  • Kedaulatan Digital: Potensi pengendalian kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Eropa dan Amerika

Studi Kasus: Operasi “Aurora Shield”

Operasi militer AS di Venezuela menjadi studi kasus menarik karena menunjukkan pola pendekatan Trump terhadap wilayah strategis. Operasi ini menggunakan kombinasi pasukan khusus, intelijen satelit, dan tekanan ekonomi. Pola serupa bisa diterapkan di kawasan Arktik, meskipun dengan tantangan iklim dan geografi yang jauh lebih kompleks.

Infografis: Perbandingan Kepentingan Strategis

AS vs Denmark di Greenland:

  • AS: Kontrol militer, jalur komunikasi, pertahanan rudal
  • Denmark: Kedaulatan, kerjasama NATO, pengelolaan sumber daya
  • Greenland: Otonomi, kemerdekaan, pengelolaan sendiri sumber daya

Investasi Militer di Arktik (2019-2024):

  • AS: USD 25 miliar
  • Rusia: USD 15 miliar
  • China: USD 7 miliar
  • Negara NATO lainnya: USD 3 miliar

Kesimpulan

Kasus Greenland menggambarkan betapa kompleksnya geopolitik modern di era perubahan iklim dan transisi energi. Di satu sisi ada kebutuhan keamanan nasional, di sisi lain ada kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri. Masa depan kawasan Arktik tidak hanya akan menentukan keseimbangan kekuatan dunia, tetapi juga masa depan perdamaian global. Kepentingan strategis harus diimbangi dengan diplomasi yang menghormati hukum internasional dan aspirasi rakyat Greenland. Dunia membutuhkan pendekatan kolaboratif, bukan dominasi unilateral.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan