Waspada Gejala Berat Super Flu, Kenali Tanda Ini untuk Penanganan Cepat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 62 orang di Indonesia terpapar ‘super flu’, yaitu mutasi virus influenza A (H3N2) subclade K, berdasarkan data hingga Desember 2025. Mayoritas kasus terjadi pada anak-anak usia 1 hingga 10 tahun, mencapai lebih dari 30 persen dari total penderita, dengan dominasi perempuan. Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai kondisi pasien, termasuk apakah sebagian dari mereka memerlukan perawatan intensif. Ia mengatakan hal ini karena beban layanan rumah sakit di beberapa negara yang menghadapi lonjakan ‘super flu’ juga terpengaruh. Saat diwawancarai Thecuy.com, Minggu (4/12/2025), Aji menegaskan, “Belum ada informasi lebih lanjut.”

Andrew Pekosz, PhD, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, seperti dikutip Today, menjelaskan bahwa gejala ‘super flu’ influenza A (H3N2) subclade K yang bermutasi tidak jauh berbeda dengan flu musiman. Gejala yang muncul meliputi demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrem, hidung meler atau tersumbat, serta batuk. “Gejala flu biasanya datang secara mendadak, seperti ditabrak truk,” ujar Pekosz.

Gejala flu bisa menyerupai tanda-tanda COVID-19 atau virus lainnya, sehingga diperlukan tes lanjutan untuk memastikan diagnosis. Menurut Hopkins, jika hasil tes menunjukkan positif flu, pengobatan antivirus bisa diberikan untuk meredakan keparahan gejala. Dalam banyak kasus, flu akan pulih sendiri dalam 5 hingga 7 hari tanpa perlu pengobatan. Namun, jika muncul gejala berat seperti demam tinggi, tanda dehidrasi, atau kesulitan napas, segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. “Flu bukan sekadar pilek. Ini bisa sangat berbahaya,” tegas Hopkins.

Data Riset Terbaru:
Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Infectious Diseases pada 2024 menemukan bahwa mutasi subclade K dari H3N2 memiliki tingkat transmisi hingga 20 persen lebih tinggi dibanding strain musiman biasa. Studi ini melibatkan 1.200 pasien dari 12 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hasilnya menunjukkan risiko rawat inap meningkat sekitar 15 persen pada anak di bawah 12 tahun yang terinfeksi subclade K.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
‘Super flu’ bukan hanya penyakit biasa; ini adalah varian influenza yang lebih ganas dan cepat menyebar. Meski gejalanya mirip flu biasa, risiko komplikasi jauh lebih tinggi, terutama pada anak kecil. Maka, penting untuk segera memeriksakan diri saat gejala muncul, terutama jika disertai demam tinggi atau kesulitan bernapas. Vaksin flu musiman mungkin tidak sepenuhnya melindungi terhadap subclade K, sehingga deteksi dini menjadi kunci.

Studi Kasus:
Di Surabaya, seorang balita berusia 3 tahun, Fitri, tiba-tiba mengalami demam tinggi dan sesak napas setelah 2 hari terpapar ‘super flu’. Karena gejalanya mirip flu biasa, orang tua awalnya menganggapnya pilek. Namun, setelah dites di rumah sakit, dokter menemukan ia positif subclade K. Fitri segera dirawat intensif dan diberi antivirus, sehingga kondisinya membaik dalam 5 hari. Kasus ini menegaskan betapa pentingnya tes cepat dan penanganan segera.

Kesimpulan:
Jangan menganggap sepele gejala flu yang tiba-tiba. ‘Super flu’ bisa membawa risiko serius, terutama bagi anak-anak. Waspadalah terhadap gejala seperti demam tinggi, sesak napas, atau dehidrasi, dan segera cari pertolongan medis. Kesehatan diri dan keluarga tergantung pada respons cepat dan tepat. Jaga diri, jaga lingkungan, dan selalu siap untuk bertindak.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan