Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang terus berubah, masih ada suara mesin jahit tua yang setia mengiringi kehidupan para pengrajin jalanan. Di bawah terik matahari dan guyuran hujan, mereka bertahan dengan keterampilan tangan di tengah derasnya arus modernisasi.
Di sepanjang Jalan Raya Jagakarsa, Jakarta Selatan, deretan gerobak jahit keliling berdiri berjejer. Sebanyak 15 tukang jahit duduk di bawah payung sederhana, siap melayani siapa saja yang membutuhkan jasanya. Mereka tersebar dari dekat Pasar Lenteng Agung hingga persimpangan Jl. Jeruk Raya, dengan beberapa gerobak lainnya tampak tertutup terpal tanpa pemilik di lokasi.
Para penjahit ini tak hanya menawarkan jasa, mereka juga menyediakan tempat duduk bagi pelanggan yang ingin menunggu pesanannya selesai. Ada yang duduk di atas motor, ada pula yang memilih bangku plastik yang tersedia. Suasana kerja pun terasa santai namun tetap produktif.
Tangan-tangan terampil mereka bergerak lincah mengarahkan kain ke mesin jahit yang sudah usang. Di sampingnya, berbagai alat jahit seperti meteran, gunting, benang, dan potongan kain tersusun rapi di atas meja kayu sederhana. Mereka bekerja tanpa sekat, langsung menghadap jalan raya yang ramai dilalui kendaraan.
Hari (33), salah satu tukang jahit di Jl. Raya Jagakarsa, mengungkapkan bahwa ia biasanya mulai mangkal sekitar pukul 10.00 hingga sebelum magrib. Namun, jika sedang ingin keliling, ia mulai bekerja sejak pukul 07.00. “Kalau keliling biasanya dari jam 07.00, kadang-kadang kalau lagi mau. Kadang-kadang keliling dulu baru mangkal di sini,” ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan Lasmina (34), penjahit keliling lainnya. Ia biasanya mangkal dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. “Kalau di sini suka ada Satpol PP, nggak boleh mangkal jam tujuh, delapan, sampai sembilan lah. Soalnya ini jalan ramai kan. suka macet pas pagi, jadi rata-rata baru pada datang rada siang,” kata Lasmina.
Di tengah keterbatasan ruang dan ancaman dari pihak berwajib, mereka tetap bertahan. Mereka adalah bagian dari Jakarta yang sering terlupakan, namun justru menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan kota, masih ada manusia yang mengandalkan keterampilan tangan untuk menyambung hidup.
Data Riset Terbaru:
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, sektor informal di Jakarta masih menyerap sekitar 35% dari total angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 12% di antaranya adalah pekerja kreatif seperti tukang jahit, penjahit keliling, dan perajin kecil lainnya. Meskipun jumlahnya menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, keberadaan mereka masih menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kota.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Di era digitalisasi yang serba cepat, keberadaan tukang jahit keliling sebenarnya menawarkan nilai-nilai yang mulai hilang dari masyarakat urban. Mereka mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan kejujuran dalam bekerja. Layanan yang mereka tawarkan memang sederhana, namun memiliki nilai humanis yang tinggi. Mereka tidak hanya memperbaiki pakaian, tetapi juga menjaga hubungan sosial antara penjahit dan pelanggan.
Studi Kasus:
Seorang pelanggan setia di Jl. Raya Jagakarsa, Siti (45), mengungkapkan bahwa ia selalu mempercayakan perbaikan pakaian keluarganya kepada tukang jahit keliling. “Selain harganya terjangkau, hasil jahitannya juga rapi. Yang paling penting, mereka ramah dan bisa diajak ngobrol. Rasanya seperti punya teman sendiri,” ujarnya.
Infografis:
- Jumlah tukang jahit keliling di Jakarta: Sekitar 2.500 orang
- Rata-rata pendapatan per hari: Rp 80.000 – Rp 150.000
- Jam operasional: 07.00 – 17.00 WIB
- Lokasi favorit: Pinggir jalan raya, dekat pasar, dan permukiman padat
Di tengah gemerlapnya gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah, para tukang jahit keliling ini tetap eksis. Mereka adalah simbol ketahanan dan semangat kerja yang tak pernah padam. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik kemajuan teknologi, masih ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga. Mereka bukan hanya menjahit kain, tetapi juga menjahit kehidupan di tengah kerasnya Jakarta. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang layak mendapatkan penghargaan dan perlindungan dari pemerintah.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.